Jejak Para Kyai Legendaris Malang Raya – Kyai Oesman Mansoer
KH. Oesman Mansoer
(Dinoyo Kota Malang, 1924-M)
Kyai Oesman Mansoer adalah seorang Mayor dibawah Bimbingan Mental (Bintal) TNI di Kodam V Brawijaya 1979. Beliau lahir di Blega, Bangkalan, Madura pada 23 Maret 1942 dari pasangan H. Raden Jalaluddin Krama Asmara dan Hj. Nur Chodijah, (Madura) Wafat 7 Februari 1989. Dimakamkan di Pemakaman Umum Kasin, Malang. Banyak hal yang patut dijadikan tauladan dari sosok Kyai Oesman Mansoer, keberhasilan beliau bisa dilihat dari pendidikan yang dituangkan pada sebelas anaknya, sebelum akhirnya sosok kharismatik ini merintis berdirinya Universitas Islam Malang (UNISMA)
Kyai Oesman memiliki 11 anak dari pernikahannya dengan wanita asal Surabaya, Nyai Hj Fathonah. Sebagian besar anak beliau mengikuti jejak Kyai Oesman sebagai seorang pendidik. Anak pertama, Halimatus Sa’diyah, saat ini tercatat sebagai dosen di Fakultas Agama Islam (FAI) Unisma. Lalu, anak ke dua, (Alm) Athiqah menyandang gelar Doktor kimia Institut Tekhnologi Bandung (ITB). Athiqah pernah menjadi dosen di UB dan ikut membidani lahirnya program studi Farmasi.
Kemudian anak ketiga, (alm) Abidah Anik menjadi pengajar di sejumlah pondok pesantren di Malang Raya. Sedangkan anak ke empat, Maslichah saat ini menjadi dosen di Fakultas Ekonomi (FE) Unisma. Dia juga dipercaya menjadi bendahara Yayasan Sunan Giri Unisma. Moch. Fatich, anak ke lima sang Kyai pernah menjabat sebagai Pembantu Rektor (PR) III Unisma. Dia juga pernah menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Malang periode 2008-2013. Saat ini, M. Fatich tercatat sebagai dosen pada Fakultas Hukum (FH) Unisma.
Kemudian, anak ke-enam Kyai Oesman, Dewi Rukoyah mempunyai jalur yang berbeda dari kakak-kakaknya, yakni memilih menjadi pegawai di Bank Mandiri. Hal yang sama menempuh karir non pendidikan juga di tempuh anak ke-tujuh Kyai Oesman, yakni Nur Farid yang berprofesi sebagai lawyer di Jakarta. Sedangkan anak ke delapan, Muhammad Nuruddin saat ini menjabat sebagai Sekjen Aliansi Petani Indonesia (API) dan tenaga ahli pada Kementerian Desa. Mohammad Nuruddin juga pernah menjadi calon wakil walikota dari jalur independen, berpasangan dengan Dwi Cahyono pada pilkada Kota Malang 2013 lalu. Sementara itu, anak ke sembilan hingga ke sebelas mengikuti jejak Kyai Oesman sebagai pendidik. Mereka adalah Fachruddin Arrozy (Dekan FE Universitas Esa Unggul Jakarta), Nurdiana (Dekan FE Unisma), dan Muhammad Basyir (Dosen Fakultas Teknik Mesin Unisma).
Setelah melihat daftar di atas, pertanyaannya adalah : bagaimana cara Kyai Oesman mendidik anak-anaknya? Nuruddin, putra ke delapan menceritakan bahwa Kyai Oesman bukanlah tipe orang tua yang memiliki banyak waktu untuk keluarganya. Setiap hari, keluarga bertemu hanya waktu saat sholat subuh hingga sarapan pagi. Beliau berangkat ke kampus jam 07.00. pagi dan sepulang dari kampus, beliau selalu ada aktifitas lain, dan biasanya ceramah sampai larut malam. Meskipun begitu, sesempit apapun waktu yang dimiliki, Kyai Oesman tetap berusaha memberikan perhatian maksimal untuk keluarganya. Terutama soal pendidikan 11 anaknya. wasiat dari beliau, bahwa ilmu itu penting dan di bawa sampai mati.
Kyai Oesman menerapkan satu pola untuk semua anaknya. Prinsip dasar, untuk sekolah harus madrasah dan mondok. Tidak harus mondok yang satu tahun penuh. Mondok ketika ramadhan juga bias. Ketika anaknya sudah menginjak usia 12 tahun, Kyai Oesman memberikan kebebasan. Anak kyai Oesman Mansoer dipersilakan memilih (pendidikan) sesuai selera masing-masing. Kyai Oesman memang terkenal demokratis. Tidak heran bila kemudian hari, pilihan hidup yang dijalani anak-anaknya cukup beragam dan variatif.
Perjuangan Kyai Oesman itulah yang membuat kagum Nuruddin dan saudara-saudaranya. Sebagai contoh yang dikagumi adalah, soal gaji beliau dari Unisma yang kecil, begitu juga sebagai pensiunan TNI. Tetapi beliau bisa mensekolahkan 11 anaknya. Demi menambah pemasukan keluarga, Kyai Oesman membeli dua unit mobil Bemo. Pada zaman itu kendaraan Bemo masih menjadi moda transportasi favorit di Kota Malang. Sehingga hasil dari bemo itu bisa membayar SPP tapi kyai Oesam tidak ikut mengelola. Sebab hal itu sudah di urusi oleh istri kyai Oesman Mansoer.
Pada suatu ketika, Nuruddin pernah dimarahi Kyai Oesman. gara-garanya Nuruddin membawa mobil dinas beliau ke sekolah. Sebab, beliau tidak suka keluarganya menggunakan mobil dinas. Kata kyai Oesman Mansoer, itu mobil harta milik kampus. Kita jangan kemaruk (serakah).
Jadi Rektor Pertama Unisma, Selalu Sarungan di Kampus
Kyai Oesman Mansoer layak menyandang predikat sebagai Kyai pejuang pendidikan. Kyai Oesman banyak menghabiskan masa hidupnya untuk dunia pendidikan termasuk ikut merintis berdirinya Universitas Islam Malang (UNISMA), sekaligus rektor yang pertama.
Dalam beberapa tahun belakangan, Unisma berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) besar di Jawa Timur (Jatim). Bahkan pada tahun ini (2016), kampus yang terletak di jalan MT. Haryono 193 ini mendapat predikat kampus unggulan ke-5 di wilayah Kopertis IV Jawa Timur. Infrastruktur bagunaan gedung yang megah, dengan ribuan mahasiswa di dalamnya menjadi penanda bahwa perkembangan Unisma sangat pesat pada akhir-akhir ini.
Di balik kemegahannya itu, Unisma tak melupakan sosok KH. Oesman Mansoer. Nama Kyai Oesman di abadikan menjadi nama ruang seminar di Unisma. Fotonya juga terpampang besar di sana bersama deretan rektor-rektor yang pernah memimpin Unisma. Ya, Kyai Oesman menjadi rektor pertama di Unisma. beliau memimpin antara 1981 hingga 1989 silam. Kyai Oesman meletakkan fondasi besar bagi perguruan tinggi yang berdiri pada 27 Maret 1981 itu.
Sejarah mencatat, Kyai Oesman lahir di Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan, Madura, 23 Maret 1924. Dia adalah putra pertama dari pasangan Raden Jalaluddin Krama Asmara dan Nur Chodijah yang masih mewarisi darah Adikara IV.
Kyai Oesman kecil kemudian hijrah ke Malang pada 1930. Di kota inilah beliau mendapatkan bekal ilmu agama. Kyai Oesman menyerap banyak ilmu dari Habib Abdul Qadir Bil Faqih, pengasuh pondok pesantren Darul Hadits di Jl. Arismunandar. Selain itu, setiap Ramadhan, Kyai Oesman secara Khusus juga berguru pada Kyai Hasyim Asy’ari dan Kyai Wahab Chasbullah di Jombang, dua tokoh yang membidanii keliahiran Nahdlotul Ulama’. Meski begitu, Oesman muda tidak melulu belajar tentang ilmu agama. Beliau juga mempelajari banyak bahasa. Diantaranya bahasa inggris, arab, belanda, dan latin. Kyai Oesman tumbuh menjadi sosok intelektual yang kuat ilmu agama dan umumnya.
Pada masa perjuangan mengusir penjajah, Kyai Oesman menjadi komandan Laskar Sabilillah Malang. pasca kemerdekaan Kyai Oesman meniti karir di kemiliteran. Beliau sempat menjadi pembinaan mental (Bintal) TNI KODAM V/Brawijaya dan pensiun pada 1979 dengan pangkat terakhir Mayor.
Pengabdiannya bagi dunia pendidikan di awali dengan menjadi Kepala SMP 1 Islam Malang. Hingga kemudian, bersama dengan sejumlah tokoh merintis Universitas Nahdlatul Ulama (UNU), cikal bakal Universitas Islam Malang (Unisma).
Rektor Unisma saat ini Prof. Maskuri mempunya kesan mendalam terhadap sosok Kyai Oesman. Maskuri masih menjadi mahasiswa Fakultas Tarbiyah Unisma di akhir-akhir masa pengabdian Kyai Oesman antara 1987-1989. Kyai Oesman waktu itu juga merangkap jabatan sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah,” ujar Maskuri. Bagi Maskuri yang paling melekat dalam memori adalah Kyai Oesman adalah sosok seorang ulama sekaligus rektor kharismatis. “orangnya bersahaja. Saya ingat waktu itu, setiap hari beliau sarungan. Bahkan ketika berada di Kampus,” kata Maskuri yang menyelesaikan pendidikan S1 nya di Unisma pada tahun 1992 ini.
Meski menjadi orang nomer satu di kampus, sikap rendah hati ditunjukkan Kyai Oesman. “beliau dekat dengan mahasiswa-mahasiswanya. Bahkan, pernah kami menggelar acara bakti sosial di Selorejo (Ngantang), beliau bersedia hadir,” ujar Maskuri yang, menjadi dosen Unisma sejak 1993 ini.
Dikutip dari : Buku Jejak Para Kyai Legendaris (Madani, 2016)