KISSI

KISSI – MENUJU UNISMA GREEN CAMPUS PENGUATAN EKOLITERASI ISLAMI UNTUK MEWUJUDKAN KESALEHAN EKOLOGIS CIVITAS AKADEMIKA


Malang, 15 Juli 2026
— Komitmen Universitas Islam Malang (Unisma) dalam mewujudkan kampus berkelanjutan terus diperkuat melalui penyelenggaraan Kajian KISSI (Kajian Islam Interdisipliner) dengan mengangkat tema “Menuju Unisma Green Campus: Penguatan Ekoliterasi Islami untuk Mewujudkan Kesalehan Ekologis Civitas Akademika.” Kegiatan ini menjadi ruang akademik untuk memperkuat kesadaran bahwa pelestarian lingkungan bukan sekadar agenda pembangunan, melainkan bagian dari implementasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan kampus.

Kajian tersebut menegaskan bahwa krisis ekologis yang tengah dihadapi dunia—mulai dari perubahan iklim, pencemaran lingkungan, deforestasi, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga meningkatnya volume sampah—bukan hanya persoalan lingkungan semata. Lebih dari itu, krisis tersebut merupakan persoalan moral, spiritual, dan peradaban yang menuntut keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, termasuk perguruan tinggi.

Sebagai institusi pendidikan tinggi Islam, Unisma memiliki tanggung jawab strategis melalui pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi untuk melahirkan inovasi, penelitian, pengabdian, serta budaya akademik yang mampu menjawab tantangan keberlanjutan.

Green Campus Berbasis Nilai-Nilai Islam

Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa konsep Green Campus tidak cukup dipahami sebagai pembangunan fisik yang ramah lingkungan. Green Campus merupakan transformasi menyeluruh yang mengintegrasikan tata kelola, pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, hingga budaya kampus berdasarkan nilai-nilai Islam.

Pendekatan tersebut menempatkan Islamic Worldview (Tauhid) sebagai landasan utama yang menginternalisasikan nilai-nilai amanah, khilafah, mizan (keseimbangan), dan ishlah (perbaikan). Nilai-nilai tersebut kemudian diterjemahkan melalui penguatan ekoliterasi Islami sehingga mampu membentuk karakter dan perilaku ekologis seluruh civitas akademika.

Perspektif Islam dalam Menjaga Kelestarian Alam

Kajian juga mengulas bahwa Al-Qur’an dan Hadis telah memberikan panduan yang sangat kuat mengenai hubungan manusia dengan lingkungan.

Manusia diposisikan sebagai khalifah di bumi yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah ayat 30. Al-Qur’an juga melarang segala bentuk kerusakan di muka bumi (QS. Al-A’raf ayat 56) serta mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan merupakan akibat dari ulah manusia (QS. Ar-Rum ayat 41).

Selain itu, Islam melarang perilaku berlebihan atau israf dalam memanfaatkan sumber daya alam sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-An’am ayat 141. Berbagai hadis Nabi Muhammad SAW pun menegaskan bahwa menjaga kebersihan merupakan bagian dari iman serta menanam pohon menjadi amal jariyah yang bernilai pahala.

Melalui perspektif tersebut, menjaga lingkungan dipahami sebagai bagian dari ibadah dan bentuk ketaatan kepada Allah SWT.

Ekoliterasi Islami sebagai Instrumen Perubahan

Salah satu gagasan utama dalam kajian ini adalah pentingnya ekoliterasi Islami, yaitu kemampuan memahami sistem ekologis yang disertai kesadaran moral dan spiritual untuk bertindak secara bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Penguatan ekoliterasi dilakukan melalui integrasi kurikulum, proses pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga pembentukan budaya kampus yang mendukung keberlanjutan. Pendekatan ini mengembangkan aspek kognitif, afektif, psikomotorik, dan spiritual secara seimbang sehingga melahirkan perilaku ekologis yang berkelanjutan.

Model tersebut diharapkan mampu menghasilkan kesalehan ekologis, yakni kesalehan yang tidak hanya tercermin dalam ibadah ritual, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Implementasi Green Campus di Lingkungan Unisma

Dalam forum tersebut juga dipaparkan berbagai strategi implementasi Green Campus yang dapat dikembangkan di lingkungan Universitas Islam Malang, antara lain:

  • Integrasi ekoliterasi Islami dalam kurikulum pembelajaran.
  • Penguatan riset dan pengabdian masyarakat berbasis lingkungan.
  • Pengelolaan sampah dengan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R).
  • Efisiensi penggunaan energi dan air.
  • Digitalisasi administrasi untuk mengurangi penggunaan kertas.
  • Penguatan komunitas peduli lingkungan.
  • Penerapan kebijakan bebas plastik sekali pakai.
  • Penanaman pohon dan konservasi ruang terbuka hijau.

Seluruh strategi tersebut didukung oleh lima pilar utama Green Campus, yaitu Green Governance, Green Curriculum, Green Research, Green Community, dan Green Lifestyle.

Diskusi Menghasilkan Berbagai Gagasan Praktis

Sesi diskusi berlangsung aktif dengan menghadirkan berbagai masukan dari dosen maupun mahasiswa.

Mahasiswa menyoroti tantangan implementasi nilai-nilai Islam dalam menjaga lingkungan yang dinilai masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara nonmuslim. Pertanyaan tersebut memantik diskusi mengenai pentingnya konsistensi antara ajaran agama dan implementasi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Perwakilan dari Fakultas Peternakan membagikan pengalaman pengelolaan limbah peternakan melalui konsep zero waste, seperti pemanfaatan feses menjadi bioarang, biogas, serta pupuk kandang. Inovasi tersebut dinilai perlu diperluas publikasinya agar dapat menjadi contoh praktik baik di lingkungan kampus maupun masyarakat.

Berbagai masukan strategis lainnya juga disampaikan, di antaranya penguatan gerakan pengurangan sampah makanan sebagai pakan ternak, penyesuaian aktivitas akademik dengan waktu salat, penyediaan tap water di berbagai titik kampus untuk mengurangi penggunaan air minum kemasan, pembiasaan penggunaan tumbler, membawa tas belanja sendiri saat berbelanja di minimarket kampus, hingga pemanfaatan kembali kertas bekas untuk kebutuhan akademik seperti bimbingan skripsi.

Usulan-usulan tersebut menunjukkan bahwa transformasi menuju Green Campus memerlukan keterlibatan seluruh civitas akademika melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Roadmap Menuju Sustainable Islamic Green University

Kajian KISSI juga memperkenalkan roadmap pengembangan Green Campus Unisma yang dimulai dari pembangunan awareness (kesadaran), dilanjutkan dengan penguatan ekoliterasi Islami, internalisasi nilai-nilai Islam, perubahan perilaku, pembentukan budaya Green Campus, hingga terwujudnya kesalehan ekologis civitas akademika.

Tahapan tersebut diharapkan bermuara pada lahirnya Sustainable Islamic Green University, yakni kampus Islam yang mampu mengintegrasikan keunggulan akademik, nilai-nilai keislaman, serta komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan yang sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs).

Komitmen Bersama Mewujudkan Kampus Berkelanjutan

Melalui Kajian KISSI ini, Unisma kembali menegaskan bahwa Green Campus bukan sekadar program lingkungan, melainkan gerakan transformasi kelembagaan yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan prinsip keberlanjutan.

Penguatan ekoliterasi Islami menjadi instrumen utama dalam membentuk karakter dan budaya ekologis civitas akademika. Keberhasilan Green Campus tidak hanya diukur dari keberadaan fasilitas ramah lingkungan, tetapi juga dari perubahan pola pikir, karakter, dan perilaku seluruh warga kampus.

Dengan komitmen bersama seluruh sivitas akademika serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, Universitas Islam Malang optimistis dapat mewujudkan visi sebagai Sustainable Islamic Green University yang memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa dan pelestarian lingkungan.