TARIKH

Jejak Para Kyai Legendaris Malang Raya – Kyai Imam Asfali

KH. Imam Asfali, (Ketapang Kepanjen)

Lazimnya ulama besar lain yang menyebarkan Islam di Malang Raya, Karomah Kyai Imam Asfali juga dirasakan masyarakat. Bahkan, karomahnya semakin besar setelah Kyai sederhana tersebut meninggal dunia. Hal itu terlihat dari banyaknya pihak yang ingin wilayahnya jadi makam jenazah Kyai Imam.

Setidaknya ada empat lokasi di tiga daerah yang sempat memperebutkan jenazah Kyai Imam. Yakni Kota Malang, Kabupaten Malang, dan kota Batu. Tapi setelah melalui proses pertimbangan matang, akhirnya diputuskan untuk memakamkan jenazah Kyai Imam di Ketapang (Kepanjen, Kabupaten Malang). Satu area dengan makam KH. Muhammad Said, ulama besar sekaligus guru ngaji Kyai Imam Asfali.

Oleh karena itu informasi dari sang menantu Mustain yang menirukan ucapak Ibu Mertua Nyai Saidah bahwa, keluarga besar kyai Imam Asfali juga sempat heran, jenazah kok jadi rebutan.

Mustain yang sekarang ini menjabat Kabag tata usaha di Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Jatim kemudian didapuk melanjutkan perjuangan Kyai Imam untuk mengasuh Ponpes Al-Islam. Meski kyai Imam Asfali dimakamkan di Ketapang, Kepanjen Kab. Malang para Jamaah Kyai Imam terus mengunjunginya. Khususnya pada hari-hari tertentu, jumlah peziarahnya bisa berjubel. Tidak hanya dari kalangan santrinya di Ponpes Al Islam, tapi merata hampir di semua daerah khususnya Malang raya.

Seperti diberitakan sebelumnya, semasa hidup Kyai Imam dikenal rajin menyebarkan ajaran agama Islam. Hampir semua daerah di Malang Raya pernah dikunjunginya untuk memberikan pengajian. Pengajian itulah yang dimanfaatkan Kyai Imam untuk menyebarkan agama Islam. Bahkan, dalam satu hari, bisa dua hingga tiga lokasi. Kesemua lokasi itu didatangi sendiri, tanpa mau dijemput. Sikap sederhana dan tidak ingin merepotkan itulah yang membuat Kyai Imam semakin dikenal oleh masyarakat Malang raya.

Banyaknya peziarah yang berkunjung ke makam Kyai Imam tidak bisa dilepaskan dari sejarah pejalanan hidupnya. Semasa hidup, Kyai Imam sering mengalami kejadian yang tidak masuk akal. Saat membangun Masjid Noor Kidul Pasar pada tahun 1990 misalnya, penyumbang seolah datang sendiri.

Panitia pembangunan Masjid sempat bingung. Mereka pesimis jika pembangunan bisa tuntas tanpa diimbangi ketersediaan dana. Tapi Kyai Imam yakin pembangunan tetap terlaksana. Kala itu, uang Rp 1 juta miliknya disumbangkan ke masjid. Tahun 1990, uang Rp 1 juta tergolong besar. Sengaja disumbangkan agar menjadi magnet bagi donatur lainnya agar turut menyumbang.

Harapan Kyai Imam ternyata bisa terwujud. Uang sebesar 1 juta yang disumbangkannya bisa menjadi magnet. Tidak butuh waktu terlalu lama, para donatur berdatangan. Bahkan, dana yang terkumpul bisa digunakan untuk membebaskan lahan senilai Rp. 105 juta di samping masjid. Pembebasan lahan itu digunakan untuk perluasan area masjid. Masjid Noor yang awalnya hanya berupa langgar mini (kecil), kini menjadi masjid yang cukup besar dan bertingkat. Pendirian menara yang tinggi, sehingga suara adzan semakin berkumandang terdengar di wilayah pasar Besar Malang. Strategi pembangunan Masjid Noor bisa diefisiensi karena sebagian material yang dibeli itu bekas. Sehingga proses pembangunannya sangat murah, hal itu informasi didapatkan dari Mustain.

Masih cerita dari Mustain bahwa, salah satu jama’ah asal Turen mengalami keajaiban berkat menerapkan ajaran Kyai Imam. Suatu ketika, jama’ah Kyai Imam yang kesehariannya berjualan jeruk di rampok. Saat menghadapi kawanan perampok, jama’ah teringat nasihat Kyai Imam. Nasihat dari Kyai Imam itu adalah kalau ada orang meminta, siapapun orangnya jangan di tolak. Teringat nasihat itu, si juragan jeruk tersebut pun mempersilakan kawanan perampok mengambil barang apa saja di rumahnya. Termasuk mobil, sepeda motor, dan perabotan lain. setelah dipersilakan, rupanya perampok mengurungkan niat jahatnya. Sebaliknya, perampok itu terharu dan mengajak perkenalan dengan sang juragan jeruk tersebut. Justru kemudian perampok itu insyaf dan meminta diajari kerja agar bisa kaya dan sukses.

 

Dikutip dari : Buku Jejak Para Kyai Legendaris (Madani, 2016)