Jejak Para Kyai Legendaris Malang Raya – Kyai Abdul Mu`ti
KH. Abdul Mu’ti
(Kasin, Kota Malang, 1886-1963 M)
Menurut Bapak Agus Hasan (yang merupakan suami dari cucu Kyai Mu’ti), KH Mu’ti berasal dari Pandaan-Pasuruan. Kemudian hijrah ke Kota Malang untuk menyebarkan dan mengajarkan syari’at agama Islam. Sejarah Pendidikannya pun belum diketahui oleh Bpk Agus Hasan. Namun Kyai Mu’ti ahli dalam Ilmu Tasawwuf dan Ilmu Fiqh, hingga beliau memiliki banyak santri yang kala itu ditempatkan di Langgar Al-Mukarromah. Beliau termasuk perintis dari Masjid Al-Mukarromah ini setelah lama wafat-nya Kyai Djalalain.
Kharisma Kyai Abdul Mukti tidak hanya menjadi sosok yang dihormati ketika masih hidup antara 1886-1963. Bahkan hingga saat ini pun, karomahnya beliau masih bisa dirasakan banyak orang.
Kyai Abdul Mukti wafat pada 9 April 1963. Tepatnya pukul 11.00 siang. Ulama besar yang masih memiliki garis keturunan Raja Sumenep, Madura ini kemudian dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kasin, Kecamatan Klojen. Pemakaman itu menjadi tempat peristirahatan banyak ulama kharismatis di Malang Raya. Tidak hanya Kyai Mukti, tapi juga Habib Abdullah bin Abdulqodir Bilfaqih, hingga pendiri Universitas Islam Malang (Unisma) KH. Oesman Mansoer.
Makam Kyai Mukti berada di sisi timur kompleks TPU Kasin. Makam Kyai yang juga pejuang kemerdekaan RI itu mudah dikenali. Tidak dari kijingnya yang sederhana tetapi dari warnanya. Kijing makam Kyai Mukti berwarna hijau muda. Warna senada digunakan beberapa makam kerabat Kyai Mukti yang ada di sekitar makam TPU Kasin. Misalnya dari makam Siti Zahrah, istri Kyai Mukti yang hanya berjarak satu kijing, hingga makam anak dan cucu-cucu Kyai Mukti yang berwarna sama hijau muda. Warna senada digunakan beberapa makam kerabat Kyai Mu’ti yang ada di sekitar makam TPU Kasin. Misalnya makam Siti Zahrah, istri Kyai Mu’ti yang hanya berjarak satu kijing, hingga makam anak dan cucu-cucu Kyai Mu’ti.
Tulisan tangan pada salah satu bagian kijing menjadi penanda keberadaan makam Kyai Mukti. Di situ tertulis KH. Abd. Mukti, Wafat Hari Selasa Kliwon Jam 11 Siang 14 Selo 1382. Sama seperti makam-makam ulama kharismatis lainnya, makam Kyai Mukti banyak diziarahi orang. Bahkan kebanyakan peziarah justru orang-orang dari luar Malang. Ada dari Lamongan, hingga dari pulau Kalimantan, informasi dari juru kunci makam, M. Yunus. Peziarah kyai Mukti datang tidak hanya 1-2 orang, tapi seringkali rombongan besar berisi puluhan orang. Dan biasanya, orang tidak hanya ziarah ke makam Kyai Mukti, tetapi juga makam-makam ulama lainnya di TPU Kasin.
Informasi dari Agus Hasan, seoarang cucu menantu dari Kyai Mukti mengatakan, bahwa kebanyakan para peziarah punya kaitan dengan ulama yang lahir pada 1886 tersebut. Apakah itu masih punya hubungan keluarga, santri-santri, atau kerabat dari santri Kyai Mukti. Seperti diberitakan sebelumnya, Kyai Mukti mendirikan pondok pesantren di Kasin. Tepatnya di Langgar Al-Mukarromah, yang kini menjadi Masjid Al-Mukarromah. Santri-santrinya tidak hanya berasal dari masyarakat umum. Tetapi juga para pejuang Hizbullah pada masa penjajahan.
Dalam riwayatnya, Kyai Mukti memiliki 17 orang anak. Di mata keluarganya, Kyai Mukti dikenal sebagai sosok yang penyabar, disiplin, dan tidak banyak bicara. Ulama yang pernah menjadi guru spiritual Bung Tomo itu juga dikenal sebagai orang tua yang demokratis.
Soal pendidikan misalnya, Kyai Mukti memberi kebebasan kepada anak-anaknya. Asalkan tidak meninggalkan syariat Islam. Oleh karena itu, tidak heran bila ada salah seorang anaknya yang bernama Dja’far Soedjarwo yang menjadi tokoh Muhammadiyah. Padahal Kyai Mukti adalah ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang kental. Kyai Mukti bahkan pernah menjadi Ro’is Syuriah PC NU Kota Malang.
Hal-hal semacam inilah yang membuat Kyai Mukti menjadi sosok yang layak untuk diteladani. Kyai Mukti juga selalu menekankan agar ikhtiar dalam mencari barokah. tetapi tidak perlu ngoyo (keras) dalam mencari harta. Sebaliknya, ketika mendapatkan rezeki tidak boleh pelit untuk mengeluarkan sedekah.
Dikutip dari : Buku Jejak Para Kyai Legendaris (Madani, 2016)