99 Kyai Kharismatik NU
KH. ABDUL WAHAB CHASBULLAH
TAMBAK BERAS JOMBANG JATIM
Wafat: 1391 H/ 1971 M
BERJIWA BEBAS TANPA MENGESAMPINGKAN NILAI KEAGAMAAN
Ia terkenal sebagai ulama yang mempunyai cara pandang dan pemikiran yang luas. Setiap permasalahan yang dihadapinya selalu dilihat dari berbagai dimensi, kemudian dicarikan solusi yang terbaik. Dalam banyak hal, ia senantiasa menerapkan alternatif aturan hukum yang teringan demi kemaslahatan bersama. KH. Wahab Chasbullah lebih memilih untuk menerapkan alternatif aturan hukum teringan yang dapat dijangkau masyarakat. Oleh karena itu, ia dipandang sebagai pemimpin yang paling toleran dalam NU, sekaligus batu karang dalam masalah-masalah prinsipil. Dan justru antara toleransi dan prinsip senantiasa melahirkan kebijaksanaan. Sehingga dalam banyak hal, ia sering berbeda pendapat dengan sahabat karibnya, KH. Bisri Syansuri yang terkenal sebagai tokoh ulama yang keras dan tegas.
KH. Abdul Wahab Chasbullah adalah roh dan motor penggerak NU. Sebagai ulama yang dibesarkan dalam tradisi pesantren, ia hendak menjadikan NU sebagai sebuah pesantren dalam format yang besar dan dalam makna yang luas sebagai ternpat beribadah, menurút ilmu, bergotong-royong dan pengabdian pada masyarakat dengan menyumbangkan karya-karya yang bermanfaat. Dengan demikian, meskipun tidak banyak mewariskan karya tulis ilmiah sebagai sebuah simbol intelektualitas, namun rangkaian karya perbuatan amalnya akan senantiasa dinikmati oleh setiap zaman. Bahkan lebih dari sekedar deretan panjang huruf-huruf yang dicetak dengan tinta emas sekalipun.
KECIL TETAPI GAGAH
Kiai Wahab selalu dilukiskan sebagai seorang yang energik, penuh semangat, ramah, dan berwibawa. Kulitnya sedikit hitam, tetapi tidak mengurangi sinar wajahnya yang rnenyimpan sifat kasih. Konon, kiai ini sulit untuk marah dan dendam karena sifat dan penampilannya yang humoris. “Meskipun orangnya kecil, ia tampak selalu bersikap gagah”, kata Haji Saifuddin Zuhri, salah seorang pengagumnya.
Selaniutnya dilukiskan oleh Kiai Saifuddin Zuhri, bahwa Kiai Wahab adalah ulama dengan pengetahuan yang sangat luas, tidak terbatas pada bidang agama saja. Orang yang pernah dekat dengannya tidak pernah jenuh mendegarkan uraian kata-katanya yang serba baru dan mengandung nilai-nilai kebenaran yang mempesona. Kiai Wahab bukan termasuk golongan ulama “Klise” karena tindak-tanduk dan tutur katanya orisinil, keluar dari perbendaharaan ilmu dan pengalamannya. Tidak pernah kecewa bila yang mengerumuni hanya sedikit orang. Kecerdasan otaknya dilengkapi dengan retorika yang baik, menjadikan setiap uraiannya terdengar menarik. Topik pembicaraannya bisa dari masalah bela diri, pencak silat, sampai bom atom, dan onderdil mobil sampai masalah aparatur negara, dari masalah kasidah dan pewayangan hingga masalah Land reform dan sosialisme.
Bagi warga NU, Kiai Abdul Wahab tidak sekedar bapak dan pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia, melainkan juga sebagai simbol dalam banyak hal, dari tradisi intelektual di kalangan ulama pesantren sampai lembaga pemersatu. Diceritakan, bahwa Kiai Wahab mendirikan, memelihara, dan membesarkan NU dengan ilmunya, baru kemudian dengan harta dan tenaganya. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika orang menyebut Kiai Wahab adalah ruh sekaligus motor penggerak NU. Sejak NU berwujud kelompok kecil yang tidak diperhitungkan orang sampai menjadi partai politik dan jam’iyah Islam terbesar di Indonesia.
TRADISI JURNALISTIK NU
Bukan Kiai Wahab jika tidak memutar otak, selalu “gelisah” mencari cara mewujudkan cita-citanya, bersama tokoh NU lainnya, Kiai Wahab pernah membeli sebuah percetakan beserta sebuah gedung sebagai pusat aktivitas NU
di jalan Sasak 23 Surabaya. Dari sini kemudian ia merintis tradisi jurnalistik modern dalam NU, ini dilandasi oleh pemikiran Wahab yang sesungguhnya amat sederhana, yaitu bagaimana menyebarkan gagasan NU secara lebih efektif dan efesien yang selarna ini selalu menggunakan dakwah panggung dan pengajaran di pesantren.
Sejak saat itu mulai diterbitkan majalah tengah bulanan Suara Nahdlatul Ulama. Selama tujuh tahun majalah ini dipimpin oleh Kiai Wahab sendiri. Teknis redaksional dari majalah tersebut lalu disempurnakan oleh Kiai Mahfudz
Siddiq dan menjadi Berita Nahdlatul Ulama. Di samping itu, terbit pula Suluh Nahdlatul Ulama di bawah asuhan Umar Burhan. Lalu Terompet Anshor dipimpin oleh Tamyis Khudlury, dan majalah berbahasa Jawa Panggah, dipimpin oleh Kiai Raden Iskandar yang kemudian digantikan oleh Syaifuddin Zuhri. Dari tradisi kepenulisan ini NU pernah mempunyai jurnalis-jurnalis ternama, seperti Asa Bafaqih, Saifuddin Zuhri, dan Mahbub Junaidi. Juga memiliki surat kabar prestisius seperti Duta Masyarakat.
Tidak salah lagi, Kiai Wahab adalah pemegang andil terbesar dalam meletakkan dasar-dasar organisasi NU dalam hampir semua sektor, mulai dari tradisi intelektual, peletak dasar struktur Syuriah dan Tanfidziyah organisasi NU, jurnalistik sampai siasat tempur di medan laga. Dalam hal yang terakhir ini ucapannya yang paling populer adalah, “Kalau kita mau keras harus punya keris” Keris dalam hal ini diibaratkan Kiai Wahab sebagai suatu kekuatan politik, militer, dan batin. Itulah sebabnya Kiai Wahab juga gigih dan terjun sendiri bersama pasukan Hizbullah (di bawah pimpinan KH. Zainal Arifin), pasukan Sabilillah (di bawah Pimpinan KH. Mansyur), dan Barisan Kiai (yang dipimpin sendiri) dalam peperangan melawan penjajah.
ULAMA TIGA ZAMAN
Dalam masa kepemimpinannya, Kiai Wahab juga tidak lepas dari ejekan, fitnah, dan hinaan, di samping itu tentu saja sanjungan dan hormat. Pada zaman Orde Lama, misalnya, banyak orang mengejek Kiai Wahab sebagai “Kiai Nasakom” atau “Kiai Oria”, lantaran NU menerima konsep Nasakon dan dekat dengan Bung Karno. Padahal kata Kiai Saifuddin Zuhri, semua orang dan semua organisasi waktu itu menerima Nasakom, termasuk ABRI. Ya, siapa yang berani menentang Bung Karno waktu itu?
Menanggapi hal ini dengan tertawa enteng Ia berimbuh,“ Ha ha ha. Ya biarkan saja”, katanya. “Ejekan ini masih belum apa-apa dibanding dengan ejekan terhadap Nabi Muhammad yang dianggap gila. Saya kan masih belum dianggap gila”, katanya. Dalam Khutbah iftitahnya yang terakhir sebagai Rais ‘Aam, Kiai Wahab masih sempat berharap, “Supaya NU tetap menemukan arab jalannya di dalam mensyukuri nikmat dan karunia Allah SWT”.
Bersambung!
Dikutip dari: Buku 99 Kiai Kharismatik Indonesia Jilid 2 (Pustaka Anda Jombang, 2010)