99 Kyai Kharismatik NU
KH. ABDUL WAHAB CHASBULLAH
TAMBAK BERAS JOMBANG JATIM
Wafat: 1391 H/ 1971 M
KETURUNAN JOKO TINGKIR
Kiai Wahab Chasbullah lahir dari pasangan Kiai Chasbullah dan Nyi Lathifah bulan Maret 1888 di Tambak Beras, Jombang. Keluarga Kiai Chasbullah, pengasuh Pondok Tambak Beras, masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan orang yang paling masyhur di abad ke-20 yang sama dari Jombang, yaitu KH. Hasyim Asy’ari, Kiai Sichah yang juga leluhur KH. Hasyim Asy’ari. Nasab keduanya bertemu dalam satu keturunan dengan Kiai Abdussalam. Konon jika diurut dari atas, nasab keluarga ini akan bermuara pada Lembu Peteng, salah seorang raja di Majapahit.
LAHIR DAN BESAR DI PONDOK PESANTREN
Memasuki usianya yang ketujuh tahun, Abdul Wahab mulai mendapatkan pelajaran agama secara intensif selama enam tahun awal pendidikannya, ia di didik langsung oleh ayahnya. Dengan demikian, Abdul Wahab menyelami kehidupan pesantren sejak dini.
Selama kurang lebih 20 tahun, ia secara intensif menggali pengetahuan keagamaan di beberapa pesantren. Di antara pesantren yang pernah disinggahinya adalah Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Mojosari Nganjuk, Pesantren Cempaka, Pesantren Tawangsari Sepanjang, Pesantren Kademangan Bangkalan Madura, Pesantren Branggahan Kediri, dan Pesantren Tebuireng Jombang di bawah pimpinan KH. Hasyim Asy’ari. Selama 4 tahun ia menjadi lurah pondok, sebuah jabatan tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang santri dalam sebuah pesantren.
MENIKAH
Pada tahun 1914, Abdul Wahab Chasbullah menikah dengan putri Kiai Musa yang bernama Maimunah. Sejak itu, ia tinggal bersama mertua di kampung Kertopaten Surabaya.
Sepeninggalan istri pertamanya di Mekkah sewaktu menjalankan ibadah haji tahun 1921, Kiai Wahab memperistri Alawiyah, putri Kiai Alwi. Setelah memperoleh seorang putra, istri keduanya ini pun meninggal. Sesudah itu, Kiai Wahab pernah tiga kali menikah, tetapi tidak berlangsung lama dan tidak dikaruniai anak. Kemudian kawin lagi dengan Asnah, putri Kiai Sa’id, pedagang dari Surabaya dan memperoleh empat orang anak, salah satunya Kiai Nadjib (Almarhum) yang selanjutnya mengasuh pesantren Tambak Beras. Setelah Asnah meninggal, Kiai Wahab menikah dengan Fatimah, anak Haji Burhan dan tidak memperoleh keturunan. Tetapi dari Fatimah ia memperoleh anak tiri, di antaranya KH. A. Sajichu. Setelah itu, Kiai Wahab menikah dengan Ashikhah, anak Kiai Abdul Madjid Bangil, yang meninggal setelah beribadah haji, dan memperoleh empat orang anak. Terakhir, Kiai Wahab memperistri Sa’diyah, kakak Ashikhah, sampai akhir hayatnya pada 1971 dan memperoleh lima anak.
PENDIRI SI DI MEKKAH
Setelah menjalani perjalanan intelektualnya, hampir sepenuh hidupnya dihabiskan di dunia pesantren. Maka pada usia 27 tahun, Abdul Wahab kemudian memperdalam pengetahuan keagamaannya di Mekkah selama lebih kurang 5 tahun. Di Mekkah ia bertemu kepada ulama terkemuka dan kemudian berguru kepadanya. di antaranya Kiai Mahfudz Temas, Kiai Muchtarom Banyumas, Syekh Ahmad Kharib Minangkabau, Syekh Sa’id al-Yamami, dan Syekh Ahmad Abu Bakri Saha. Di Mekkah, Kiai ‘Wahab Chasbullah tidak hanya sibuk dengan kegiatan belajar, namun juga terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan organisasi. Bahkan ia bersama dengan Abbas dan Jember, Asnawi dan Kudus, dan Dahtan dari Kertosono yang mempelopori berdirinya Syarikat Islam (SI) Cabang Mekkah.
Dengan rangkaian perjalanan intelektual yang demikian panjang, tidak mengherankan apabila pada usia 34 tahun Abdul Wahab telah menjadi pemuda yang menguasai berbagai disiplin ilmu keagamaan, seperti Ilmu Tafsir, Hadits, Fiqh, Akidah, Tasawuf, Nahwu-Sharaf, Ma’ani, Manthiq, ‘Arudl dan Ilmu Hadlarah dari cabang ilmu diskusi dan retorika.
MENDIRIKAN TASHWIRUL AFKAR
Akhirnya bersama Kiai Mas Mansur, kawan mengaji di Mekkah, ia membentuk kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) di Surabaya pada 1914. Mula-mula kelompok ini mengadakan kegiatan dengan peserta yang terbatas. Tetapi berkat prinsip kebebasan berfikir dan berpendapat yang diterapkan dan topik-topik yang dibicarakan mempunyai jangkauan kemasyarakatan yang luas, dalam waktu singkat kelompok ini menjadi sangat populer dan menarik perhatian di kalangan pemuda. Banyak tokoh Islam dan barbagai kalangan bertemu dalam forum itu untuk mendebatkan dan memecahkan permasalahan pelik yang dianggap penting.
Tashwirul Afkar tidak hanya menghimpun kaum ulama pesantren. la juga menjadi ajang komunikasi dan forum saling tukar informasi antar tokoh nasionalis sekaligus jembatan komunikasi antara generasi muda dengan generasi tua. Dari posnya di Surabaya, kelompok ini menjalar sampai ke seluruh kota di Jawa Timur. Bahkan gaungnya sampai ke daerah lain seluruh Jawa. Kelompok ini tidak hanya mendiskusikan masalah-masalah kemasyarakatan yang muncul, tetapi juga menggalang kaum intelektual dan tokoh tokoh pengerakan. Jelas pemprakarsanya memasukkan unsur-unsur kekuatan politik untuk menentang penjajah. Karena sifat rekrutmennya yang lebih mementingkan progresifitas berpikir dan bertindak, maka jelas kelompok diskusi ini juga menjadi forum pengkaderan bagi kaum muda yang gandrung pada pemikiran keilmuan dan dunia poilitik.
Bersama dengan itu, dari rumahnya di Keropaten, Surabaya, Kiai Wahab, masih bersama Kiai Mas Mansur, menghimpun sejumlah ulama dalam organisasi Nahdatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) yang memperoleh kedudukan badan hukumnya pada 1916. Dari organisasi inilah Kiai Wahab mendapat kepercayaan dan dukungan penuh dan ulama pesantren yang kurang lebih sealiran dengannya. Di antara ulama yang berhimpun itu adalah K.M. Alwi Abdul Aziz, K. Ma’shum dan K. Kholil Lasem.
MENDIRIKAN NAHDLATUL WATHAN
Tampilnya Nahdlatul Wathan sebagai lembaga pendidikan dalam rangka rnenindaklanjuti rekomendasi Tashwirul Afkan, antara lain telah membuka jalur pendidikan sebagai media rekrutmen dan sosialisasi politik dalam membangkitkan kesadaran nasional.
Sebagai lembaga pendidikan, Nahdlatul Wathan di bawah pimpinan KH. Wahab Chasbullah telah berhasil mendirikan sekolah-sekolah di berbagai daerah di Jawa Timur antara lain:
– Sekolah Madrasah Ahloel Wathon di Wonokromo.
– Sekolah/ Madrasah Farol Wathon di Gresik.
– Sekolah Madrasah Hidayatoel Wathon di Jombang, dan
– Sekolah Madrasah Khitabatoel Wathon di Surabaya
Wahab Chasbullah juga mempunyai perhatian khusus terhadap para pemuda. Untuk itu, Wahab Chasbullah mengumpulkan beberapa orang pemuda Syubban al-Watan (Pemuda Tanah Air) pada tahun 1924. Organisasi ini kemudian menjadi cikal bakal Gerakan Pemuda Ansor yang lahir pada tahun 1934. Di kalangan pemudanya disediakan wadah Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air) yang di dalamnya, antara lain ada nama Abdul Ubaid. Dalam kelompok inilah Kiai Wahab mulai memimpin dan menggerakkan perjuangan pemikiran berdasarkan keagamaan dan nasionalisme. Sayang sekali, hanya karena perbedaan khilafiyah saja duet Abdul Wahab-Mas Mansur harus retak dan kemudian berpisah. Jika tidak, mungkin perkembangan sejarah ormas Islam atau lebih besar lagi umat Islam Indonesia akan berbicara lain.
Perbedaan pandangan dengan Mas Mansur tidak menjadikan Wahab mundur diri dari penggalangan pemikiran dikalangan pemuda saat itu. Jiwanya yang bebas dan selalu ingin mencari penyelesaian masalah menjadikan ia terus melakukan kontak dengan tokoh-tokoh pergerakan dan tokoh-tokoh keagamaan lainya. Dengan pendiri Al-Irsyad, Syekh Achmad Syurkati di Surabaya, misalnya, Kiai Wahab tidak segan-segan melakukan diskusi mengenai masalah keagamaan. Sedangkan dengan tokoh pendiri Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan Kiai Wahab sering bertandang ke Yogyakarta untuk bertukar pikiran dengannya.
Akan tetapi juga tidak bisa dihindari, karena terjadinya gesekan kepentingan dan makin menajamnya perselisihan paham keagamaan antar tokoh agama, timbul polarisasi yang tajam di kalangan mereka, meski tidak sampai mengorbankan kepentingan yang lebih besar, yaitu cita-cita kemerdekaan Indonesia. Kiai Mas Mansur, misalnya, harus kembali ke organisasi Muhammadiyah, dan Kiai Wahab terus melanjutkan penggalangan solidaritas ulama dalam forum tersebut.
Kristalisasi di kalangan organisasi ini makin keras bersamaan dengan menculnya khilafat baik di Turki maupun di Saudi Arabia yang kemudian ditarik garis lurusnya bermuara pada masalah perselisihan paham keagamaan.
Yaitu, terjadinya perselisihan antara paham Islam bermazhab dan tidak bermadzhab.
Menjawab tantangan yang diakibatkan oleh perselisihan ini, pada mulanya tokoh-tokoh seperti Kiai Wahab, HOS. Tjokroaminoto, Kiai Ahmad Dahlan, Haji Agus Salim, dan Kiai Mas Mansur sendiri masih menampung seluruh aspirasi umat dengan cara sebaik-baiknya. Akan tetapi, ketika menentukan siapa yang harus berangkat ke Kongres Khilafah di Timur Tengah, di situlah masalah makin meruncing.
MENDIRIKAN KOMITE HIJAZ
Ide dan gagasan Kiai Wahab semakin berkembang seiring dengan munculnya Islamic Study club yang didirikan oleh kaum terpelajar. Melalui kelompok studi ini, ia secara aktif membangun komunikasi dengan tokoh-tokoh pergerakan, seperti Dr. Soetomo dan lain sebagainya. Baginya, aspirasi Islam dan nasionalisme merupakan dua aspirasi yang saling mengisi. Tidak relevan bagi keduanya untuk selalu dibentuk dan dipertentangkan karena dianggap yang satu menafsirkan yang lain.
Dari perkembangan dunia internasional, tampil tokoh Ibn Sa’ud yang menggantikan kekuatan pemerintah Syarif Husein di Saudi Arabia, direspons dan dipandang umat Islam Indonesia dapat berpengaruh pada akidah Ahlussunnah wal Jama’ah. OIeh karena itu, eksponen-eksponen dalam Tashwiru Afkar, Nahdlatul Al-Wathan, dan Syubban al-Wathan, yang secara substasial adalah satu aliran dalam akidah dan ibadah maupun dalam aspirasi kemasyarakatan, melebur dalam satu ikatan yang bernama Komite Hijaz di bawah pimpinan KH.Bisri Syansuri dari Jombang, KH. Ridlwan dari Semarang, KH. Raden Asnawi dari Kudus, KH. Nawawi dari Pasuruan, KH. Nahrawi dari Malang. KH. Alwi Abdul Aziz dari Surabaya, dan beberapa ulama lainya. Kemudian atas inisiatif Kiai Wahab, tokoh-tokoh ulama ini berkumpul di Surabaya pada tanggal 16 Rajab 1334 H, bertepatan dengan 31 januari 1926 dan memutuskan:
- Memimpin degelasi ke Kongres dunia Islam demi memperjuangkan kepada raja Ibn Sa’ud agar hukum menurut empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) mendapat perlindungan dan kebebasan di wilayah kekuasaannya.
- Membentuk suatu jam’iyah bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Para Ulama) yang benjuang menegakkan syari’at Islam yang berhaluan salah satu dari empat madzhab.
Untuk sementara, kepengurusan Syuriah dan Tanfidziyah Nahdlatul Ulama dipercayakan pada KH. Alwi Abdul Aziz dari Surabaya. Sementara delegasi ke Mekkah yang dipimpin Syekh Ghanaim akhirnya dapat membawa sukses dalam misinya. Meskipun demikian, Kiai Wahab tidak bersedia untuk menduduki jabatan Rais Akbar, pucuk pimpinan dalam NU. Jabatan ini diserahkan kepada KH. Hasyim Asy’ari dan wakilnya KH. Ahmad Dahlan dari Surabaya. Sementara ketua Tanfidziyah dipercayakan kepada Haji Hasan Gipo. KH. Abdul Wahab Chasbullah merasa cukup sebagai Katib ‘Aam Syuriah.
Demikianlah cikal bakal lahirnya organisasi kemasyarakatan Nahdlatul Ulama. Dalam waktu yang relative singkat, 10 tahun, organisasi yang semula hanya berlingkup lokal di Surabaya ini bisa melebarkan sayapnya dan diterima oleh kalangan ulama di seluruh pulau Jawa, bahkan sampai ke Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Maluku. Ini semua berkat kegigihan para ulama menyebarkan ide-ide keagamaan dan kemasyarakatannya, terutama melalui jaringan pesantren. Lima tahun kemudian, kiprah Nahdlatul Ulama tidak hanya terbatas pada masalah keagamaan dan kemasyarakatan secara tradisional, tetapi sudah mulai mengadopsi model pendidikan Barat dengan mendirikan koperasi dan menggalang ekonomi rakyat pedesaan di bidang pertanian, nelayan, dan usaha kecil.
Pada masa pasca proklamasi, andil Kiai Wahab baik dalam kancah politik nasional maupun pengembangan organisasi NU sangat menonjol. Pada awal kemerdekaan, Kiai Wahab bersama kaum pergerakan lainnya seperti Ki Hajar Dewantoro, Dr. Douwes Dekker, Dr. Rajiman Wedyodiningrat, duduk dalam Dewan Pertimbangan Agung, kemudian berkali-kali duduk dalam kursi parlemen sampai akhir hayatnya pada 1971. Akan tetapi, peranan paling menonjol dari Kiai Wahab dalam hal ini adalah sebagai negosiator antara kepentingan NU dan pihak pemerintah. Tidak heran dengan fungsinya itu, Kiai Wahab sangat dekat dengan presiden dan pejabat tinggi lainnya.
Bersambung!
Dikutip dari: Buku 99 Kiai Kharismatik Indonesia Jilid 2 (Pustaka Anda Jombang, 2010)