TARIKH

Ziarah Pemikiran Gus Dur

Mengais Perspektif Gus Dur-ian
Oleh; Armada Rianto CM
Rektor Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang

Kehadiran Gus Dur sepanjang hidupnya merupakan perspektif kedalaman. Ia tidak hanya seorang ulama, tetapi juga seorang filosof (pemikir dalam makna yang mendalam), seorang raja ‘(menurut Prof. Franz Magnis-Suseno), seorang negarawan, seorang pluralis (menurut banyak kalangan), seorang multi-kulturalis, seorang guru, seorang pembelajar, seorang sahabat.

Hampir tidak mungkin melukiskan Gus Dur dengan ungkapan bahasa yang mampu menjangkau kekayaan dan kedalaman kehadirannya. Ia seorang humoris, la juga yang melempar koin perspektif politik ke dalam bahasa sehari-hari. Dalam Gus Dur politik tidak lagi berada dalam bahasa tabu. Perkara komunisme, PKI, dan segala simbol kesuraman politik dibahas dalam cara-cara yang lebih manusiawi.

Gus Dur bukan deklarator sejarah sukses bangsa Indonesia, tetapi dialah barangkali satu satunya manusia Indonesia yang berani berkata bahwa sejarah adalah sejarah jatuh-bangun bangsa. Sejarah bukanlah dongeng atau kisah kisah kemenangan dan kesaktian. Sejarah adalah juga ingatan akan salah paham yang menyakitkan. Dialah presiden pertama yang meminta maaf atas segala kekacauan yang ditimbulkan oleh salah paham. Mengikuti Yohanes Paulus II yang meminta maaf atas aneka kekerasan dalam sejarah, Gus Dur merninta maaf pula atas aneka kebrutalan masa lampau yang pernah dilakukan oleh bangsa ini.

Gus Dur diakhir hidupnya tampil sebagai seorang manusia yang terbatas secara fisik. Penglihatannya berkurang. Tetapi, intuisi dan common sense tidak pernah sepi untuk menyuarakan kita kembali kepada nurani yang mencintai dan menjunjung tinggi harkat manusiawi.

 

Pluralisme
Dalam kehadiran Gus Dur, konsep kita tentang pluralisme bergeser secara signifikan dan mendalam. Pluralisme identik dengan keberagaman. Keberagaman mengatakan keindahan. Jadi, pluralisme adalah perkara tentang keindahan.

Gus Dur adalah sosok yang mempromosikan keberagaman dalam suasana yang lain, yang berbeda dengan banyak cendekiawan dan budayawan dan para ulama. Promosi keberagaman oleh Gus Dur banyak dipondasikan pada paradigma kultur kampung.

Kultur kampung bukanlah mendangkal. Kultur kampung hanya untuk mengatakan bahwa Gus Dur sebagal sosok tokoh memiliki kedalaman pada tataran logika populis. Logika populis adalah logika rakyat, logika orang kampung. la mulai dengan kejenakaan, kenylenehan, sekaligus keindahan. Sosok Gus Dur adalah sosok yang segar dalam pemikiran. Idenya memiliki kedalaman makna transendental.

Gus Dur menghapus departemen penerangan. Dalam makna sehari-hari, departemen penerangan berurusan dengan komunikasi politik pemerintah. Komunikasi politik berkaitan langsung dengan bahasa. Maka, departemen penerangan boleh disebut sebagai departemen “bahasa” politik. Sebagai sebuah departemen, kerja dan proyeknya mengabdi kepentingan. Kepentingan di sini jelas milik penguasa. Tanpa disadari, departemen bahasa ini membuat kekuasaan memiliki logika bahasa yang eksklusif. Eksklusif artinya bahasa departemen penerangan mengatakan pula ranah-ranah penyingkiran dan pemberhangusan segala simbol yang berasal dan rakyat.  

Semangat Gus Dur dalam berdialog interreligius mengingatkan kita akan A common word, sebuah surat terbuka kepada para pemimpin umat Kristiani di dunia. Di tengah hingar bingar kekacauan dunia yang sarat kekerasan setiap hari, telah dilayangkan sebuah “Open letter” yang barangkali telah mengukir rekor sebagai dokumen surat paling banyak dibaca di planet ini. Sebuah surat yang mengusung pesan damai dan menyejukkan hati di penghujung tahun 2007.

Surat itu berjudul “A common word between us and you “. Surat dilayangkan secara terbuka oleh “138 Islamic scholars” (di antaranya juga erasal dan Asia, juga Indonesia), ditujukan kepada Paus Benedictus XVI dan para Permimpin Umat Kristiani di seluruh dunia, dirilis tanggal 13 Oktober 2007 dan sebuah situs yang beralamatkan: “The Royal Aal al-Bayt Inst it utefor Islamic Thought, Jordan” (di http://www.acornmonword.com).

Di planet ini umat Islam dan Kristiani menyumbang lebih dan setengah jumlah seluruh populasinya. Dan, jika dipetakan, mereka berada pada posisi wilayah krusial terkait masalah konflik-damai seluruh umat manusia. “Without peace and justice between these two religious communities, there can be no meaningful peace in the world. Thefithi re of the world depends on peace between Muslims and Chris tians “(A Common Word)

Ketika kehidupan didasarkan pada pertimbangan reduktif-primordial mayoritas minoritas, kebersamaan tidak lebih dan sekedar sebuah ajang persaingan, konflik, dan relasi menang kalah. 138 kaum cendekiawan dan para pimpinan Islam di dunia secara konkret menegaskan bahwa dalam tata hidup bersama, sungguh tidak masuk akal membayangkan penerapan sikap-sikap menang bagi kelompok sendiri dan penyingkiran terhadap kelompok lain. Dengan ini para pencetus Open letter juga mendesakkan pesan bahwa perdamaian sangat mengandaikan keadilan dan koeksistensi.

Gordon Brown, PM lnggris, menyebut Open letter sebagai sebuah tekad baik untuk mengisolasi para ekstrimis yang membungkus kekerasan baju dan ornamen doktrinal-fundamental agamis. Tetapi, pasti tidak hanya untuk menepis gerakan ekstrimisme melainkan juga menghantam bentuk-bentuk mental sempit komunalisme, monolitisme dan minoritas mayoritas-isme!

 

Bersambung!

 

Dikutip dari : Buku Gus Dur Sebuah Testimoni Lintas Agama (LAKPESDAM NU Cabang Kota Malang, 2010)