TARIKH

Ziarah Pemikiran Gus Dur

Lanjutan (Gus Dur; Bapak Pluralisme)

 

Oleh karena itu, tidak berlebihan jika kemudian diusulkan oleh para pengagumnya untuk mendapatkan gelar sebagai pahlawan dengan melihat kiprah dan kontribusinya untuk bangsa dan negara. Perjuangan Gus Dur memang tidak secara fisik sebagaimana para pahlawan kemerdekaan, namun pemikiran dan perjuangan kemanusiaan yang selalu dia lakukan sebanding dengan para pendiri republik ini. Sebagai contoh, ketika dia  menyampaikan” ia mencabut Tap MPR soal pelarangan PKI. Mengapa itu hal tersebut harus dilakukan, sebab beliau tahu betul bagaimana pendiskriminasian orang—orang eks-PKI, padahal mereka juga bagian dan anak bangsa ini. Namun demikian, dari segala kelebihannya itu, Gus Dur juga mempunyai sisi kekurangannya, yaitu ketika ada yang membisikkan sesuatu, beliau secara spontan mengeluarkan hasil bisikan itu, padahal bisikan tersebut terkadang kurang baik dimata publik. Meskipun demikian, secara khusus pahlawan polri adalah tetap Presiden Gus Dur” ungkap AKBP Danil T Silitonga kemudian memberikan pesan kepada semua bahwa Gus Dur sesungguhnya telah mengajarkan kepada seluruh anak bangsa agar menjadi manusia yang humanis. Bahwa kita semua terlahir tidak bisa memilih, antara menjadi orang Amerika atau Indonesia. Tuhan memberikan matahari juga tidak memilih manusia yang baik-baik saja, semua mendapatkan sinar matahari yang menyinari. Dengan kata lain, yang berbuat jahat pun, Tuhan mengasihinya apalagi dengan yang baik,  tetapi manusia biasanya ada yang berlaku seolah-oleh dia Tuhan dengan rnenganggap yang lain adalah musuh.

Dengan semangat kemanusian, marilah kita semua ciptakan persaudaraan dalam kehidupan sosial masyarakat di negara tercinta ini. Bagaimanakah dengan tanggapan yang lain tentang Gus Dur? Pdt. Gunawan dan GKJW berkata, “Gus Dur pernah mengajar Islamologi di Gereja Aliwiyoto dan Pdt. Gunawan adalah pengagum Gus Dur. Akan tetapi hal terpenting yang harus dilakukan oleh semua adalah jangan sampai berlebihan dalam menghormati dengan cara rnengkultuskannya. Pdt. Ismail (Andi) juga menambahkan bahwa melihat sosok Gus Dur sama halnya dengan memandang sosok orang yang sangat religius dengan tingkat spiritualitas yang sangat dalam, sehingga beliau memberikan kedamaian atar umat beragama.

Hal yang tidak jauh berbeda pandangan seorang dalam memotret seorang Gus Dur, yakni; Ida Bagus Putra dari Hindu. Ia mengilustrasikan Gus Dur sebagai seorang manusia super yang sangat faham tentang didirikannya bangsa ini, yakni keberagaman baik agama, sosial maupun budaya, yang terwujud kedalam kebinnekaan yang tunggal ika.  Dengan pemahaman yang demikian sudah tentu semua yang ada di negeri ini adalah bersaudara. Yang sangat unik tentang Gus Dur, disampaikan Aji tunliu dari GKI, ia dengan mencoba memandang Gus Dur bukan hanya pada sisi pemikiran Gus Dur, namun juga membayangkan ada sekumpulan buku yang menceritakan Gus Dur. Baginya, yang dibutuhkan adalah tindakan nyata, bukan hanya sebatas pemikiran, itulah yang akan menginspirasi kita dari sosok Gus Dur.

Bagi Pdt. muda Suyatman dan GKI Gaspora, ia menilai seorang sosok Gus Dur telah banyak berkiprah dan berbuat bagi dirinya dan dunia kemanusiaan secara umum. Pdt. Suyatman kemudian berucap “terimakasih atas jasa Gus Dur sebab beliau menjadi tema dalam penyampaian firman Tuhan di Gereja-Gereja. Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Itulah seorang Gus Dur yang wafat meninggalkan nama yang bijak dan kebijaksaan yang selalu membekas bagi bangsa dan terutama mereka yang pernah dibela. Gus Dur menjadi tema di Gereja seperti ketaatan umat Islam dalam menjalankan ibadah lima waktu. Kita semua lagi sedang tidur akan tetapi ketaatan umat Islam bangun untuk menjalankan ibadah, itulah yang harus kita tiru dalam konteks kepatuhan atau ketaatan kepada Tuhan.

Sehingga, yang didapatkan selanjutnya bukan hanya mengkaji seorang Gus Dur, tetapi kita mendapatkan nilai-nilai yang harus dilaksanakan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pada akhir kegiatan, Moh. Syafiq (ketua lakpesdam NU) kemudian ikut menyerukan kepada semua agar nilai-nilai yang ajarkan oleh Gus Dur, dapat menjadi spirit dalam kehidupn yang kebih luas. Marilah Kita buktikan bahwa kita yang berbeda bisa berkumpul dan bersaudara tanpa latar belakang agama, suku dan budaya yang memang sudah heterogen. Kita semua memiliki Tuhan, agama, suku dan budaya yang berbeda, namun memiliki visi dan misi kemanusiaan yang sama, yakni demi terwujudnya masyarakat yang berbalutkan pada dimensi keadilan,  kedamaian hidup antar sesama sebagai manusia Indonesia.

 

Dikutip dari : Buku Gus Dur Sebuah Testimoni Lintas Agama (LAKPESDAM NU Cabang Kota Malang, 2010)