Ziarah Pemikiran Gus Dur
Gus Dur; Bapak Pluralisme
Oleh; Khoiron
Ia disebut sebagai bapak pluralisme. Disebabkan ia selalu menawarkan gagasan pluralisme ditengah-tengah wacana yang mencoba menciptakan kehidupan masyarakat yang heterogen seperti Indonesia, menjadi masyarakat yang homogen sebagaimana yang mereka idealkan. Pluralisme telah artikulasikan oleh Gus Dur, ke-dalam kiprah dan perjuangannya dalam membumikan nilai-nilai universal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia membela hak-hak konstitusional seluruh warga-bangsa yang sering diperlakukan tidak adil dan diskriminatif oleh entitas tertentu atau justru oleh negara itu sendiri. Dengan kiprah dan perjuangan itu, mereka merasakan langsung pembelaan Gus Dur yang tidak mengenal takut terhadap rezim yang sedang berkuasa, meksipun dia harus menanggung resiko. Bagi Gus Dur, yang perlu dilawan adalah sikap dan perilaku yang diskriminasi atas dasar suku, agama, ras dan adat istiadat (SARA). Dengan kata lain, sikap dan perilaku itu telah melanggar konstitusi yang menjadi perekat kehidupan semua warga-bangsa. Ia melakukan itu semua, semata-mata demi keadilan dan kemanusiaan, yang jauh dari kepentingan sebagaimana orang kebanyakan.
Dari argumentasi empirik di atas itulah, kemudian para penerus dari pemikiran Gus Dur selalu mengkampayekan khazanah pemikiran dan kiprah keintelektualannya di berbagai forum publik, semata-mata demi meneruskan dan memperjuangkan keadilan dalam konteks kehidupan bernegara ini. Banyak hal yang bisa dirasakan ketika beliau masih hidup. Mengutip pendapat Pdt. Simon, Gus Dur benar- benar mengerti penyakit bangsa ini dan sangat berbeda dengan kebanyakan orang yang seolah mencoba memahami kondisi bangsa namun hasil diagnosa yang mereka lakukan salah. Berikut ini adalah lawatan Lakpesdam NU Kota Malang bekerjasama dengan Bamag (Bade Musyawarah Antar gereja) di GM Jl. Bromo kepada anggota Jamaah Gereja dan berbagai perwakilan gereja di Kota Malang dan sejumlah tokoh agama agama di Kota Malang.
Perbincangan dihadiri oleh puluhan Gusdurian dan teman dari Kristen, yakni Pdt. Simon dari Kapolresta Kota Malang Danil T Silitong. Kehadiran kedua sosok ini teramat istimewa dalam acara lawatan pada tanggal 27 Januari 2010. Pdt. Simon adalah orang yang dekat dengan Gus Dur, sementara Kapolresta Kota Malang Danil Silitonga adalah mantan pejabat operasional semasa pemerintahan Gus Dur. Lawatan ini kemudian menjadi menarik dan memberikan artikulasi mengenai kisah Gus Dur dan dinamika pluralisme.
Bagi Pdt. Simon, mengenal Gus Dur dimula dengan cara membaca tulisan-tulisannya pad tahun 1996 ketjka ada acara dengan para aktivis PMII. Setiap hadir di sekretariat kantor PMII dipastikan ada gambar Gus Dur sebab mereka menyebutkan din sebagai “Gusdurian”. Ini kemudian diianjutkan ketika teman-teman secara khusus mendatangkan Gus Dur di Mojokerto saat haul meninggalnya Riyanto anggota Banser. Setelah itu pada tahun 2007-2008 ketika ramai diperbincangkan tentang Undang-Undang Anti Porno Aksi-Pornografi, Gus Dur datang ke Surabaya. Ada hal sangat mengesankan ketika beliau sedang makan nasi gule, ternyata sambil makan tiba-tiba dagingnya mencolot. Akhirnya, para tamu hampir mau tertawa tetapi tidak berani, hanya meluapkannya dalam hati. Selanjutnya pada bulan Agustus 2009 ketika Gus Dur sakit dan dirawat di RSCM Jakarta, Pdt. Simon berkesempatan menjenguknya.
Ternyata, Gus Dur sangat ingat kepada Pdt. Simon walaupun beliau berada dipembaringan, menyapa dengan bahasa santun. Bahkan, kendatipun dalam keadaan sakit, Gus Dur merupakan sosok yang peduli sama sahabat lamanya, yakni KH. Musthofa Bisri (Gus Mus), sangat perhatian kepada para sesepuhnya yang sudah tiada. Itulah Gus Dur. Yang cukup menarik ternyata, Gus Dur juga seperti sebuah pohon beringin yang rindang dan semua orang biasa berteduh di bawahnya, bukan seperti pohon kelapa dengan daun yang runcing. Dalam konteks ini, takkala tahun 2005 MUI telah menfatwakan haram tentang pluralisme, Gus Dur ternyata sangat menentang itu. Oleh karena itu setelah wafatnya Gus Dur, Fdt. Simon selalu berpikir, siapa yang melindungi kita sebab perlindungan Gus Dur sangat terasa di dalam kehidupan dan kerukunan umat beragama. Itulah yang belum bisa terjawab saat ini. Pasalnya, akhir-akhir ini sudah ada kelompok yang mau mengalahkan Tuhan. Negara mana yang bisa melakukan penyadapan kalau bukan di Indonesia. Gus Dur telah berbuat banyak semua, termasuk di dalamnya NU.
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah NU yang membuat Gus Dur seperti sekarang ini atau justru Gus Dur yang membuat NU seperti sekarang ini? NU yang dulunya dianggap tradisional dan kampungan sekarang menjadi organisasi yang paling moderat dan modern. Bagaimanakah dengan pandangan elemen lainnya mengenai Gus Dur? Kapolresta Danil T Silitonga berpandangan bahwa berbicara tentang Gus Dur, mungkin sehari tidak cukup. Melihat media elektronik saja selama dua minggu tidak cukup untuk mengenang beliau. Dalam sejumlah pengalaman hidup Silitonga saat bersama Gus Dur, banyak hal yang bisa dikenang. Saat dia masih menjadi prajurit, berpangkat kapten yang sedang bertugas di bagian operasional kepresidenan dan di istana Jakarta. Gus Dur ini adalah sosok pribadi yang diberikan Tuhan agar negara tidak berada di titik nadir. Gus Dur hadir sebagai Presiden yang bisa diterima oleh semua kalangan masyarakat.
Gus Dur tidak senang dipanggil Bapak Presiden, dan lebih tertarik dengan nama sederhananya, Gus Dur. Setiap kali beliau pergi tidak pernah memberitahukan dahulu sehingga membuat pengawal Istana menjadi kelabakan mencarikan rute jalannya. Kalau Gus Dur mungkin tidak punya lawan, tetapi yang sedang dikawal bukan seorang Gus Dur secara pribadi, namun ia seorang Presiden yang mempunyai banyak musuh politik sebab Gus Dur diangkat melalui proses politik yang dramatis dan penuh intrik-intrik politik. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, karena Gus Dur sering melontarkan pernyataan-pemyataan yang menyinggung pribadi dan golongan lainnya di setiap hari jumat kita (polri) pasti siaga satu, sebut saja saat sholat jumat, maka pengawal Istana harus selalu siap siaga satu. Terlepas dan hal tersebut, sosok Gus Dur yang dilahirkan dan seorang agamawan ternyata sangat berbeda ketika beliau menjadi Presiden, apalagi sebagai tokoh bangsa. Hanya Gus Durlah, seorang presiden yang paling unik sekaligus pemberani mengenai bagaimana tiap ada acara hari raya Imlek, Natal atau Konghuchu, Presiden pasti datang.
Bersambung!
Dikutip dari : Buku Gus Dur Sebuah Testimoni Lintas Agama (LAKPESDAM NU Cabang Kota Malang, 2010)