Ziarah Pemikiran Gus Dur
Membaca pemikiran Gus Dur :
Reformasi Kebijakan Agama
Oleh : Farih In’am Sulaiman
Gus Dur merupakan tokoh pendamai dunia. Ia sangat menjunjung tinggi perbedaan agama; penjaga perbedaan keberagamaan. Dalam ‘konteks keberagamaan, kebenaran harus dipahami sebagai sebuah relativitas, bukan kebenaran mutlak yang seringkali berujung pada klaim kebenaran (truth claim) sepihak. Semua agama benar menurut keyakinan dan kepercayaan masing-masing. Oleh karena itu, Gus Dur menolak SARA.
Pemikiran Gus Dur seperti itu bukan merupakan sesuatu yang utopis, tetapi Gus Dur telah menjadi tokoh terdepan dalam memperjuangkan pluralisme agama. Atau dengan kata lain, apa yang diperjuangkan Gus Dur bukan merupakan sebatas wacana belaka; sekedar mudah dibibir dan tidak dijalankan. Dalam kenyataannya, Gus Dur banyak melakukan pembelaan terkait pluralisme agama yang bisa dipungkiri oleh siapapun.
Di dalam era Orde Baru, pemerintah hanya mengakui 5 agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Diantara lima agama, tersebut adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha. Agama yang berada di luar agama yang ditetapkan oleh pemerintah, akan dianggap sesat dan bahkan harus dihapus dari bumi Indonesia. Akibatnya, banyak daripara penganut agama-agama lain dirugikan; paling tidak mereka mengalami tekanan psikologis akibat harus mengganti agama atau keyakinannya sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh pemerintah. Dalam konteks ini, pemerintah telah melakukan sebuah bentuk kekerasan psikologis yang mungkin tak akan pernah digantikan dalam hidup para penganut sebuah agama keyakinan.
Pasca Orde Baru, kebijakan pemerintah dalam kendali Gus Dur telah memberikan wajah yang lain dalam hal keberagamaan di Indonesia. Gus Dur yang juga sebagai sosok intelektual muslim besar di penghujung abad XX ini, membuat gebrakan dengan membukan kran bebasan bagi agama-agama di Indonesia. Salah šatunya adalah pengakuan pemerintah era Gus Dur terhadap agama Kong Hu Chu.
Beberapa testimoni para tokoh agama:
Yudho Asmoro, dari penghayatan kepercayaan: Bahwa aliran kepercayaan seperti saya baru diakui sebagai WNI pada tahun 2007. Sejak zaman orde baru, saya merasa menjadi warga buangan. Gus Dur memeliki beberapa kelebihan. Di antaranya, Gus Dur memiliki pamahaman yang holistic (menyeluruh) dalam memahami Indonesia. Artinya, Gus Dur sangat memahami sejarah berdirinya Republik Indonesia beserta dengan ideologi maupun konstitusi hukumnya. Gus Dur menyadari bahwa bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, ras, agama, bahasa dan kebudayaan. Oleh karena itu, tidak perlu kemudian kita terlalu mempermasalahkan perbedaan tersebut, termasuk di dalamnya ungkapan jangan memaksa keberagaman menuju penyeragaman karena hakikat dan ideologi bangsa Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika. Pikiran Gus Dur seperti ini harus rnenjadi inspirasi terbangunnya dialog antar umat beagama melalui forum-forum lintas agama.
Bratayana, dari Kong Hu Cu: Bahwa Pemerintahan Indonesia tidak mempunyai kapasitas untuk mengakui agama. Yang berhak mengakui agama itu hanya umatnya sendiri. Pada tahun 2001, Gus Dur mengeluarkan KEPPRES no.6 Tahun 2001 berisi tentang penghapusan terhadap KEPPRES diskriminatif serta mengembalikan hak-hak sipil. Satu hal yang membuat Gus Dur berbeda dengan yang lain adalah kesesuaian antara kata dan perbuatan. Hal ini kemudian yang membuat Gus Dur disegani.
Sutrimo, dari penghayat kepercayaan: Bahwa Gus Dur adalah Bapak Budaya. Negara kita ini harus memiliki jati diri. Sebagai seorang muslim, Gus Dur memandang bahwa Islam adalah firman Allah bukan sebagai sebagai sebuah koloni (komunitas) yang kemudian ditunaikan dalam pola hidup. Yang dibutuhkan oleh Indonesia hari ini adalah sosok pemimpim yang memiliki pribadi bangsawan dan negarawan Sepeninggal Gus Dur, nampaknya belum ada pemimpin yang bisa memenuhi dua kategori ini.
Abdullah Syam, dari pengasuh Pesantren Rakyat: Bahwa Gus Dur adalah representasi seluruh pemikiran alam bawah sadar bangsa Indonesia. Ketika ingin tahu bagaimana bangsa Indonesia, maka bacalah Gus Dur.
Ida Bagus Bajre, dari agama Hindu: Walaupun Pemerintah belum mengelu arkan keputusan tentang status pahlawan nasional, komunitas agama Hindu sepakat untuk mengukuhkan sendiri Gus Dur sebagai pahlawan nasional, Tokoh Bangsa, Guru Bangsa dan Bapak Bangsa.
Yohanes, dari Kristen: Sampai hari ini belum ada tokoh yang mampu menggantikan peran Gus Dur. Inilah kemudian tantangan bagi NU ke depan untuk mencetak kader-kader sekaliber beliau karena kebutuhan akan munculnya Gus Dur baru sangat relevan dalam kondisi kekinian. Siapapun tidak dapat menyangkal kiprah beliau di masyarakat dunia, diterima dimana-mana baik lembaga tradisional, nasional maupun internasional. Semoga forum diskusi semacam ini bisa langgeng dan tidak sampai tergerus gelombang zaman.
Tri Heriyati, dari lernbaga Akar Rumput (pendamping HIV lintas agama): Gus Dur memiliki prinsip sosial yang tinggi. Ia membela orang-orang yang dising- kirkan atau dimarginalisasikan. Prinsip seperti ini sama dengan semangat yang sedang kita lakukan dalam melakukan pendampingan terhadap para pengidap HIV yang menganut berbagai ragaman agama. Kita bangsa Indonesia jangan hanya rnenunggu kader seperti Gus Dur. Alangkah baiknya jika kita tidak hanya membaca pemikiran Gus Dur, tetap mengaplikasikannya.
Edi Purwanto, dari aktivis Puspek Averoez: Pelaksanaan atau aplikasi pemikiran Gus Dur sudah dilakukan oleh teman-teman muda, termasuk Puspek Averoez di dalamnya. Seperti advokasi pengrusakan gereja yang terjadi di Kedungkandang. Gus Dur merupakan tokoh yang unik dan kontroversial. Alangkah dan pilihannya susah untuk ditebak. Pertemuan lintas agama seperti ini seyogyanya biasa menjadi benih-benih pelaksanaan permikiran Gus Dur.
Sunarko, dari WALUBI: Gus Dur adalah pahlawan bangsa. Dia menceritakan pengalamannya ketika itu Gus Dur datang ke Maiang. Setelah kedatangannya itu, mendirikan tempat ibadah tidak lagi dipersulit karena langsung mendapat rekomendasi dan Beliau dan juga FKUB. Pada saat itu WALUBI berencana untuk mendirikan vihara di daerah Dieng.
Teguh: Dia menyatakan bahwa NKRI adalah harga mati. Ketika ada sekelompok orang yang ingin merubah NKRI itu, maka NU yang akan menjadi pasukan garis depan. Hal ini sejalan pula dengan pemikiran Gus Dur. Gus Dur adalah tokoh besar yang bersahaja. Hal ini biasa kita lihat dari cara beliau berpakaian yang sederhana. Gus Dur juga merupakan sosok dengan multi talenta, politikus, agamawan dan sekaligus budayawan.
Happy, dari RRI Malang: Gus Dur adalah tokoh fenomenal yang mengajarkan kedewasaan pada bangsa Indonesia. Dia juga memberikan dukungan supaya acara semacam ini biasa diteruskan, bahkan siap memfasilitasi untuk acara dialog publik di RRI.
Bunsu Hanom Permana, dari Kong Hu Cu: Sosok Gus Dur sangat sederhana. Desakralisasi Istana Merdeka dimulai ketika Gus Dur menjadi Presiden. Semua rakyat bebas masuk ke Istana Negara tanpa mengindahkan formalitas rotokoler. Gus Dur mempunyai pandangan bahwa semua manusia itu sama. Jadi, antara satu dengan yang lainnya harus saling menghormati
M. Fahaza: Gus Dur memiliki keberanian untuk membuka kembali hubungan bilateral dengan Israel, meskipun kecaman datang secara bertubi-tubi. Ada beberapa hal yang bisa kita ambil hikrnah dan perjalanan hidup Gus Dur. Di antaranya, menghargai hak-hak sipil dan menjalin hubungan dengan siapapun dan pihak manapun.
M. Mahpur, dari Lakpesdam NU: Bahwa semangat pertemuan diskusi lintas agama adalah keinginan membangun komunikasi Apakah kemudian setelah terwujud komunikasi yang solid perlu adanya tindak lanjut dalam bentuk advokasi? Ini yang perlu dipikirkan bersama karena realitas di luar sana banyak sekali kasus diskriminasi dan lain seterusnya.
Bunsu Anton: Ketika menjadi presiden meskipun dalam waktu yang singkat, Gus Dur telah berbuat banyak dan membawa kemaslahatan termasuk di dalamnya adalah kembalinya hak-hak sipil Tionghoa.
Dikutip dari : Buku Gus Dur Sebuah Testimoni Lintas Agama (LAKPESDAM NU Cabang Kota Malang, 2010)