Jejak Para Kyai Legendaris Malang Raya – Kyai Malik
KH. Malik (Kedungkandang, 1949 M)
Tidak banyak tokoh di kota ini yang namanya diabadikan menjadi nama sebuah jalan. Adalah Letda KH. Malik menjadi satu dari sedikit tokoh itu, ini menunjukkan bahwa kyai Malik bukanlah sosok sembarangan.
Jalan KH. Malik menjadi salah satu yang terpanjang di Kota Malang. Membentang sepanjang 7 kilometer dari pertigaan Jl. Mayjen Sungkono (selatan jembatan Kedungkandang), di Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang, hingga Jl. Raya Kidal yang sudah masuk teritori Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang itu belum termasuk sejumlah gang yang juga diberi penamaan KH. Malik. Salah satunya jalan KH. Malik Dalam yang menjadi akses alternatif menuju Perumahan Ciputra Citra Garden View dan GOR Ken Arok.
Penamaan Jalan KH. Malik baru dilakukan sekitar awal 90-an. Sebelum di ganti dengan Jl. KH. Malaik nama jalan tersebut tidak jelas. Bahkan, ada yang menyebut Jalan Timur Sungai. Hingga akhirnya ada sekelompok mahasiswa yang mengusulkan agar jalan tersebut di beri nama Jalan KH. Malik. Walhasil, usulan itu kemudian diperjuangkan warga untuk dapat di patenkan menjadi sebuah jalan.
Sungguh tidak berlebihan jika penggunaan nama tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada Kyai Malik seorang tokoh masyarakat, berikut ulama yang juga ikut dalam memperjuangkan kemerdekaan RI. Seperti diketahui, bahwa makam Kyai Malik berada di tepi Jalan Mayjen Sungkono, selatan jembatan Kedungkandang dan tidak jauh dari Jalan KH. Malik. Kyai Malik gugur pada 6 Januari 1949. Meski tidak pernah tinggal di Kelurahan Buring Kota Malang, Kyai Malik sudah terlanjur menjadi tokoh yang disegani dan dihormati oleh masyarakat Buring. Hal Itu tidak lepas dari sikap patriotisme dan nasionalisme kayi Malai dalam perjuangannya mengusir penjajah Belanda.
Letkol (purn) Abdul Manan menjadi salah satu saksi perjuangan Kyai Malik yang masih hidup. Letkol (purn) Adul Manan pernah menjadi anak buah Kyai Malik dalam mengusir penjajah. Sampai pada akhirnya, Letkol (purn) Abdul Manan diambil menantu oleh sang Kyai karismatis itu. Letkol (purn) Abdul Manan sendiri dinikahkan dengan Siti Fathonah anak kedua dari Ibu Nyai Baeni Albaiyah dengan kyai Malik. Kyai Malik sendiri dikaruniai tiga orang anak. Sedangkan Siti Fathonah adalah anak kedua dari tiga bersaudara.
Sebagai menantu, sekaligus juga bekas anak buah, Abdul Manan cukup mengetahui sepak terjang siapa sosok Kyai Malik. Meskipun sampai saat ini, Abdul Manan tidak mengetahui kapan Kyai Malik dilahirkan. Termasuk, pada usia berapa Kyai Malik gugur pada tahun 1949 itu. Dia hanya melihat bahwa kyai Malik sudah terlihat tua pada waktu gugur.
Abdul Manan juga mengatakan, bahwa Kyai Malik pernah menjadi komandan Kompi Hizbullah Sabilillah pada tahun 1945. Sedangakan aAbdul Manan sendiri waktu itu menjadi anggota Kompi di bawah pimpinan Kyai Malik. Abdul Manan sendiri sekarang menjadi pengurus Dewan Harian Cabang (DHC) Angkatan 45 ini.
Perawakan Kyai Malik, seperti yang dikatakan oleh Abdul Manan, tinginta sekitar 160 centimeter, atau rata-rata tinggi orang pribumi, kulitnya putih, wajahnya mirip seperti orang Jepang. Sehingga seolah-olah mirip orang Jepang, padahal beliau adalah asli orang pribumi.
Sepengetahuannya, Kyai Malik berasal dari Lamongan. Setidaknya, Kyai Malik pernah lama mondok di Lamongan. Bahkan, Kyai Malik juga pernah berguru pada KH. Kholil, ulama kenamaan asal Bangkalan Madura dalam beberapa tahun, sehingga membuatnya dekat dengan Syaihona Kholil Bangkalan. Oleh karena itu, tidak heran bila Kyai Malik memiliki segudang ilmu yang mumpuni. Kyai Malik juga memiliki ilmu kebal senjata, beliau juga mempunya sebuah sabuk yang istimewa. Sebuah cerita tentang sabuk tersebut, bahwa pernah sabuk tersebut tertinggal di Masjid, di Brongkal, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang. Abdul Manan mencoba untuk mengambilnya, namun setelah ditemukan tidak seorangpun yang dapat mengambilnya termasuk Abdul Manan, sehingga beliau menyampaikan kepada Kyai Malik, sebab hanya Kyai Malik sendiri yang dapat mengambilnya.
Di dalam kehidupan pribadi dan sosial kemasyarakatan, Kyai Malik mempunyai prinsip yang sangat kuat. Misalnya, soal kebenaran, beliau sangat tegas dan keras. Sehingga, kyai Malik dapat disebut sebagai sosok pemimpin yang bertanggung jawab kepada negara, juga kepada keluarganya.
Sebagai wujud perhatiannya kepada keluarga, kemanapun Kyai Malik pergi, dia selalu berpamitan kepada sang istri dan anak-anaknya, termasuk ketika menjelang akhir hayatnya. Dalam perjuangan kemerdekaan, kyai Malik mendapatkan tugas untuk bergabung dengan tentara Kompi IV/Alap-Alap di Bangil Pasuruan. Sebelum berangkat ke Bangil, kyai Malik berencana pulang ke rumahnya di Tanjungrejo (di Kecamatan Sukun), untuk bertemu keluarga. Akan tetapi sebelum tiba di rumahnya, kyai Malik dihadang oleh tentara Belanda, sebab wajah kyai Malik mirip orang Jepang. Tidak lama kemudian, kyai Malik gugur, setelah belanda mengetahui cara untuk membongkar ilmu kebalnya.
Kyai Malik gugur di selatan Jembatan Kedungkandang, tempat di mana kemudian beliau di makamkan. Meskipun terpampang tulisan ‘makam pahlawan/pejuang kemerdekaan RI’ di atas makamnya, tetapi sebenarnya kyai Malik tidak pernah mendapatkan gelar pahlawan secara resmi dari negara, maupun tanda jasa dari negara. Pihak keluargapun tidak pernah mengajukan. Sebab, bagi keluarga besar kyai Malik merasa sudah cukup dengan apa yang ada pada saat ini. Pihak keluarga sangat bangga dengan penghormatan yang diberikan oleh warga sekitar, sampai nama kyai Malik di abadikan menjadi nama sebuah jalan.
Perjuangan Kyai Malik Berakhir di Jembatan Kedungkandang
Sebagai pahlawan zaman kemerdekaan, nama Letda KH. Malik mungkin masih kalah tenar dengan nama Hamid Rusdi. Namun, kyai Malik adalah sosok kebanggaan warga Kecamatan Kedungkandang, khususnya di seputaran Kelurahan Buring. Kita yang sering melintasi Jalan Mayjen Sungkono, pasti tidak asing lagi dengan sebuah makam di sebelah selatan Jembatan Kedungkandang. Lokasinya persis berada di pinggir jalan, diapit toko pracangan dan bedak tambal ban.
Disana ada sebuah hiasan bambu runcing dan bendera Merah Putih di salah satu bagian makam. Kemudian ada sebuah prasasti berukuran panjang satu meter yang memampang tulisan: Makam Pahlawan/Pejuang Kemerdekaan RI ’45 Letda Inf. KH. Malik, Gugur 6 Januari 1949. Hanya ada informasi tanggal wafatnya dari sang Kyai, sementara tanggal lahirnya, hingga sekarang belum ada yang mengetahuinya. Meskipun upaya untuk menggali repihan fakta-fakta sejarah kyai Malik terus dilakukan oleh beberapa pihak. Kyai Malik memang bukan sosok pahlawan yang populer. Namun, dia begitu dicintai masyarakat. Terutama masyarakat di daerah sekitar makam, di Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang.
Mulai tahun ini, untuk kali pertama, keluarga besar kyai Malaik dan warga sekitar menggelar haul untuk memperingati wafatnya sang Kyai. Haul yang dilaksanakan di rumah salah seorang warga di Jl. KH. Malik RT 04 RW 04 pada 10 Mei kemarin, dihadiri lebih dari 25 ribu orang. Hal itu menunjukkan bahwa meskipun kyai Malik belum dikenal secara luas oleh masyarakat, akan tetapi antusiasme masyarakat dalam memperingati haul kyai Malik cukup tinggi.
Infomasi dari salah seorang penggagas haul kyai Malik, bahwa banyaknya orang yang datang bukan semata-mata lantaran mengenal sosok Kyai Malik tetapi karena dihadirkannya Habib Ja’far (Ja’far bin Utsman Al Jufri), yang memang memiliki banyak massa. Sehingga, dari haul itu masyarakat mulai mengenal siapa itu Kyai Malik.
Satu-satunya referensi tertulis soal Letda KH. Malik adalah sebuah buku kecil yang diterbitkan Dewan Harian Daerah (DHD) Angkatan 45 Jawa Timur. Data itupun tidak banyak informasi yang bisa di dapatkan. Dalam catatan sejarah menunjukkan bahwa kyai Malik pernah menjadi pejuang tentara Hizbullah. Dia juga punya kontribusi besar dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari Agresi Militer II Belanda yang berlangsung pada 1948-1949 silam. Sebuah perjuangan besar yang sekaligus menjadi akhir dari perjalanan kyai Malik dalam ikut memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, meskipun beliu tidak mendapatkan penghargaan secara resmi dari Negara, akan tetapi nilai-nilai perjuangan beliau patut menjadi suri tauladan bagi masyarakat kedungkandang pada khususnya dan malang raya pada umumnya.
Dikutip dari : Buku Jejak Para Kyai Legendaris (Madani, 2016)