Jejak Para Kyai Legendaris Malang Raya – Kyai Tamin
KH. Tamin
(Kidul Pasar, Kota Malang 1943 M)
Sosok kyai Tamin bisa dibilang sebagai kyai dengan kemampuan kompleks. Selain mengajar ilmu agama, kyai Tamin juga menjadi gurunya para pejuang kemerdekaan RI. Bahkan ada yang bilang kalau Bung Tomo yang tersohor itu pernah berguru ke kyai Tamin. Bagi warga kidul pasar atau selatan pasar besar Kota Malang, nama kyai Tamin begitu harum dan dikenang , hingga nama kyai Tamin diabadikan menjadi sebuah nama jalan yakni Jalan kyai Tamin.
Selain menjadi nama jalan di daerah tersebut, jasa yang cukup besar kyai Tamin adalah menjadikan daerah kidul pasar sebagai daerah santri. Di daerah Kidul Pasar pada sebelum kemerdekaan, kyai Tamin mengajarkan Ilmu Agama dan memberi ijazah atau amalan kepada para pejuang kemerdekaan. Kyai Tamin mengajar dari sebuah surau di Kidul Pasar. Saat ini, surau tersebut sudah menjadi Masjid Noor.
Informasi dari ketua ta’mir Masjid Noor H. M. Zainuddin bercerita bahwa, masjid Noor ini dulunya mushalla yang ditempati Kyai Tamin berdakwah, masih belum mempunyai nama. Sekitar tahun 1970, ketika tempat tersebut sudah menjadi masjid, lalu diberi nama Masjid Noor, dengan maksud masjid ini menjadi cahaya, yang memancarkan cahaya kewilayah Malang Raya, karena dulu tempat ini santri-santri dari Malang Raya mengaji ke Kyai Tamin. Cerita H. M. Zainuddin yang kini menjabat sebagai wakil ketua DPRD Kota Malang ini.
Dalam mendidik kepada santri-santrinya, Kyai Tamin selain mengajarkan ilmu agama, juga memberi ijazah. Di kalangan santri, ijazah di sini adalah amalan khusus yang diberikan guru kepada muridnya. Manfaatnya aneka macam tergantung kebutuhan santri. Karena Indonesia kala itu belum merdeka, besar kemungkinan ijazah dari Kyai Tamin bermanfaat agar muridnya bisa sakti dalam melawan penjajah. Sehingga, dari daerah sini banyak yang ikut berjuang dan sekarang sudah dibuatkan monument perjuangan untuk mengenang para santri kyai Tamin. Sebab, mereka semua adalah santri Kyai Tamin yang diberi ijazah oleh beliau.
Kabar cerita lain tentang kehebatan Kyai Tamin diperoleh dari KH. Mashudi, yang merupakan santri Kyai Tamin. Pria yang sekarang tinggal di Wajak ini mengatakan kalau Kyai Tamin mempunyai banyak santri hebat. Salah satunya adalah Sutomo, atau yang lebih dikenal dengan nama Bung Tomo. Untuk diketahui, bahwa Bung Tomo adalah Pahlawan Nasional yang sangat populer. Salah satu jasanya adalah memimpin para pejuang dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. sehingga kini, setiap tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Kyai Mashudi mejelaskan bahwa dia bersama Bung Tomo pernah ngaji ke Kyai Tamin dalam beberapa tahun. Sebelum meninggal sekitar 1943, Kyai Tamin pernah berwasiat kepada KH. Mashudi dan Bung Tomo. Wasiatnya, jika Kyai Tamin meninggal, mereka berdua diharapkan meminta ijazah kepada santri Kyai Tamin bernama KH. Abdul Mukti yang ada di daerah Kasin, Kota Malang. Kemudian keduanya pun meminta ijazah kepada KH. Abdul Mukti. Bung Tomo diberi ijazah berupa jimat dari potongan bamboo, sedangkan KH. Mashudi diberi ijazah dari tulisan terakhir yang ada di kitab Sulam Safinah.
Setelah itu, KH. Mashudi dan Bung Tomo berjuang mempertahankan kemerdekaan. Bung Tomo bergabung Badan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI). Sedangkan KH. Mashudi bergabung dengan Tentara Republik Indonesia (TRI). Bahkan ada cerita bahwa Bung Tomo pernah ditembak oleh tentara Jepang, namun tidak mati, mungkin karena ijazah dari KH. Abdul Mukti.
Tolak Sembah Matahari, Kyai Tamin Dibui Jepang
Nama Kyai Tamin di kota Malang memang begitu melegenda. Hingga kemudian nama beliau diabadikan sebagai nama sebuah jalan yang cukup stratrgis, yakni Jalan Kyai Tamin di Kawasan Pasar Besar Kota Malang. Jalan Kyai Tamin yang berada persis di sebelah selatan Pasar Besar seolah tidak pernah tidur. dari pagi buta, jalanan ini sudah dipenuhi lalu-lalang pengguna jalan. Di sisi kanan dan kiri, pertokoan berderet melengkapi daerah tersebut sebagai jantung perekonomian Kota Malang, pada malam hari, aktivitas ekonomi tetap berdenyut dengan adanya Malang Night Market. Sebuah kawasan pasar kuliner yang khusus di buka pada malam hari, hal itu menambah keramaian jalan kyai Tamin.
Keberadaan jalan tersebut merupakan salah satu bukti kemasyhuran sosok Kyai Tamin sebagai pendakwah sekailigus pejuang yang pernah ada di Kota Malang. Di kalangan warga sekitar pasar Besar, Kyai Tamin cukup dikenal, karena dahulu berdakwah dari sebuah suara kecil. Kini, suara tersebut sudah menjadi masjid Noor yang berada di sebelah selatan Pasar Besar.
Dari data dan informasi yang di himpun, kyai Tamin merupakan putra dari Ulama tersohor di daerah Genteng, Pasuruan, yakni KH. Ghofur. Selama hidupnya, Kyai Tamin mempunya tiga orang istri, satu di Malang dan dua berada di Pasuruan. Istri yang ada di Malang bernama Hj. Mariam, dan dari hasil pernikahannya itu Kyai Tamin mempunyai seorang anak bernama Aisyah. Kelak, Aisyah di persunting oleh Bupati Malang periode 1964-1969 Moch. Sun’an. Dengan demikian, Kyai Tamin mempunyai menantu yang menjadi Bupati.
Dari pernikahannya Moch. Sun’an dengan Aisyah, keduanya mempunyai enam orang anak. Untuk mengetahui sejarah Kyai Tamin. Menurut informasi dari anak ke enam Moch. Sun’an dan Aisyah yakni Laila Martini, saat ditemui dirumahnya diperumahan Vila Sengkaling, cucu Kyai Tamin tersebut ditemani suaminya, yakni M. Romdlon. Laila menceritakan, bahwa berdasarkan informasi yang dia terima dari kedua orangtuanya, Kyai Tamin merupakan pendakwah aslii Pasuruan. Mungkin karena inilah, Kyai Tamin mempunyai tiga istri yang ada di Pasuruan dan di Malang, dan itu bukan istri bercerai, tapi tiga istri secara bersamaan. Dulu dakwaanya memang di Malang dan di Pasuruan.
Dalam berdakwah, Laila mengatakan kalau Kyai Tamin berpindah-pindah di sejumlah masjid dan Musholla yang ada di kota Malang. Salah satu tempat beliau berdakwah adalah di Musholla yang ada di selatan Pasar Besar. Kini, Musholla tersebut sudah menjadi masjid besar Noor.
Selain berdakwah, Kyai Tamin dikenal sebagai ulama yang teguh dalam mempertahankan aqidah. Salah satunya, dalam cerita sekitar tahun 1943, pemerintah Jepang yang menduduki Kota Malang, meminta warga untuk menyembah matahari. Memang orang Jepang memang mempunyai kepercayaan menyembah matahari dengan sedikit membungkuk di pagi hari.
Kisah cerita ditambahkan oleh M. Romdlon bahwa permintaan Jeoang tersebut langsung ditolak mentah-mentah oleh Kyai Tamin. Menurut pandangannya, menyembah matahari sama saja menduakan Allah. Karena menolak inilah, Kyai Tamin lalu ditangkap oleh Pemerintah Jepang. Ada kemungkinan di khawatirkan bahwa Kyai Tamin bisa mengajak orang lain untuk menolak perintah orang Jepang, sehingga beliau di tangkap.
Ketika itu, Kyai Tamin dibui ditahanan milik Jepang yang ada di sekitar alun-alun merdeka sekarang tempat tersebut sudah menjadi pusat perbelanjaan Ramayana. Kyai Tamin sempat ditahan lama oleh pemerintah Jepang juga karena ibu mertua (anak Kyai Tamin) sempat menyambangi ketika di tahan. Tidak lama setelah itu, Kyai Tamin di pindah ke lapas sukamiskin, Bandung. Di penjara inilah, kemudian Kyai Tamin meninggal dunia. Memang menurut cerita orang, bahwa beliau meninggal bukan karena di siksa Jepang.
Kyai Tamin meninggal sepengetahuan Romdlon, karena beliau mempunyai sakit sesak. Dari penyakit inilah, ketika di rumah, Kyai Tamin sering tidur di atas penghangat yang terbuat dari arang. Kemungkinan, fasilitas itulah yang tidak di dapat selama dalam penjara. “mungkin karena inilah beliau meninggal. Kalau tahun meninggalnya kami kurang paham,” jelas alumnus Fakultas Hukum (FH) Universitas Brawijaya ini. Romdlon menjelaskan, keluarga kehilangan kontak setelah Kyai Tamin dipindahkan dari Malang ke Lapas Sukamiskin. Oleh karena tidak ada kontak inilah, keluarga tidak tahu kapan Kyai Tamin meninggal.
Bahkan, keluarga baru tahu kalau Kyai Tamin di makamkan di pemakaman muslim Pasir Impun Barat, Kelurahan Pamulang, Kecamatan Mandalajati, Bandung pada tahun 1972. Ketika itu, menantu Kyai Tamin Moch. Sun’an ada tugas di Bandung. Saat itu, Moch. Sun’an menjadi DPR RI setelah sebelumnya menjabat Bupati Malang. Moch. Sun’an sempat bertanya ke sipir di Lapas Sukamiskin, ternyata ketemu dengan orang yang merawat beliau sebelum meninggal. Dari beberapa kali kunjungan M. Romdlon dan keluarganya, diketahui bahwa kalau Kyai Tamin dimakamkan bersebelahan dengan Kyai asal Pasuruan lainnya yang juga di tahan Jepang, yakni KH. Muhammad Khuzaimi. Hanya saja, cerita soal meninggalnya Kyai Tamin di masyarakat ada dua versi. Selain yang diceritakan Romdlon, ada versi lain. yakni Kyai Tamin meninggal setelah di tembak oleh Jepang di Malang. Kyai Tamin juga di makamkan di Sukorejo, Kelurahan Jodipan.
Hal ini sebagaimana disamapaikan oleh salah seorang santri Kyai Tamin, yakni KH. Mahudi. Pria asal Wajak ini mengatakan, bahwa Kyai Tamin di siksa oleh Jepang setelah menolak mengheningkan cipta. Beliau di arak telanjang di sekitar Pasar Besar, lalu setelah itu di tembak. Setelah itu, Kyai Tamin dimakamkan di daerah Jodipan. Karena kharisma Kyai Tamin itu, saat pemakaman, puluhan ribu warga ikut mengantar. Bahkan, sepanjang Pasar Besar hingga jalan Jodipan, sekitar 2,5 KM dipenuhi oleh takziah, sehingga jenazah beliau di angkat oleh orang-orang di jalan tersebut tanpa terputus.
Informasi terakhir masih dari salah seorang cucu Kyai Tamin, yakni Laila Martini yang tinggal di Dau Kab. Malang menjelaskan bahwa Kyai Tamin memang dikenal mempunyai ilmu kesaktian (kekebalan), atau semacam ilmu kanuragan. Karena beliau mempunyai kesaktian inilah, pemerintah Jepang tidak pernah menyiksa Kyai Tamin. Sehingga, kyai Tamin tidak diperlakukan kasar oleh pemerintah Jepang sampai beliau meninggal.
Dikutip dari : Buku Jejak Para Kyai Legendaris (Madani, 2016)