BERITA LPIK

Pelatihan Moderasi Beragama dan Bela Negara di Universitas Islam Malang

Universitas Islam Malang (Unisma) melalui Griya Moderasi Beragama dan Bela Negara (GMBBN) mengadakan pelatihan moderasi beragama dan bela negara bagi civitas akademika. Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, seperti Dr. M. Munir, MA (Direktur Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama RI), Dr. H. Muhammad Yunus, M.Pd (Wakil Rektor 3 Unisma), Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si (Dosen Pascasarjana Universitas Islam Malang), dan Prof. Dr. Yusuf Hanafi, MA (Ketua GMBBN Universitas Negeri Malang). Peserta pelatihan terdiri dari dosen agama dan mahasiswa Unisma.

Ketua Lembaga Pengkajian Islam dan Keaswajaan (LPIK), Imam Syafii, dalam sambutannya menekankan pentingnya menyebarkan Islam sebagai rahmatan lil alamin. “Griya Moderasi Beragama dan Bela Negara Unisma merupakan bagian dari LPIK yang memiliki program dakwah untuk menebarkan Islam yang toleran, bukan dakwah dengan kekerasan,” ungkapnya.

Pada pelatihan ini Direktur Pendidikan Agama Islam kemenag RI menekankan pentingnya moderasi beragama dan bela negara di lingkungan Perguruan Tinggi, Dr. M. Munir, MA, dalam paparannya melalui Zoom, menyoroti urgensi menumbuhkan ekosistem moderasi beragama dan bela negara. “Komitmen kebangsaan harus dikuatkan untuk melawan paham-paham yang merusak keutuhan bangsa. Ideologi radikal sulit dilupakan meskipun organisasi terlarang telah dibubarkan. Mereka terus bergerak bahkan menyusup ke dunia pendidikan,” ujarnya.

Munir juga menyoroti fenomena global terkait radikalisme dan intoleransi. Ia mengungkapkan bahwa strategi kelompok radikal semakin mengkhawatirkan karena menjangkau sekolah favorit dan pesantren “Pemerintah dan kampus harus berperan aktif membangun pemahaman keagamaan yang toleran dan melawan segala bentuk radikalisme,” tambahnya.

Acara ini dibuka oleh Wakil Rektor III Unisma Dr. H. Muhammad Yunus, M.Pd, Yunus memberikan ancaman saat ini yaitu proxy war dan menegaskan bahwa kampus memiliki peran strategis dalam menjaga komitmen kebangsaan. “Islam harus dipahami secara komprehensif. Moderasi beargama dan Bela negara melalui komitmen kebangsaan perlu dirumuskan dalam menghadapi perang modern, seperti proxy war yang melibatkan kelompok tertentu untuk mengganggu stabilitas,” jelasnya.

Pemateri pada pelatihan ini Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si, juga menyoroti pentingnya peran strategis pemerintah dan akademisi dalam mempertahankan keutuhan NKRI. “Moderasi beragama bermuara pada pemahaman Islam yang rahmatan lil alamin dan menciptakan peradaban yang damai. Kita harus menjaga Indonesia dari ancaman radikalisme yang terus mengintai,” tegasnya.

Strategi Menghadapi Radikalisme dan Intoleransi dalam paparannya, Prof. Dr. Yusuf Hanafi, MA, menjelaskan strategi kelompok radikal yang sering kali mengaburkan sejarah, menghancurkan budaya lokal, dan memanfaatkan isu SARA untuk memecah belah masyarakat. “Kita harus memperkuat nilai-nilai toleransi dan moderasi dalam kehidupan berbangsa dan beragama,” ungkapnya.

Ia juga mencontohkan praktik baik dari negara lain, seperti Arab Saudi dengan program Vision 2030 yang mengedepankan moderasi dan toleransi, serta Uni Emirat Arab yang memiliki kementerian toleransi. “Moderasi beragama sebagaimana yang diajarkan dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 143) harus menjadi pedoman dalam menghadapi tantangan zaman,” tambahnya. Pada pelatihan ditutup dengan rencana tindak lanjut pembuatan konten video oleh peserta dengan tema moderasi beragama dan bela negara.