TARIKH

Ziarah Pemikiran Gus Dur

Mendaulat Gus Dur Pahlawan Nasional

Oleh:
Mohammad Mahpur

K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mantan Presiden Republik Indonesia ke-4, adalah seorang bapak bangsa, telah meninggal ba’da maghrib malam, Kamis 14 muharram 1431 H, tanggal 30 Desember 2009 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta pukul 18.45 WIB. Rakyat Indonesia dan Dunia ikut berduka. Banyak hal yang bisa dikenang dari perjalanan hidup Gus Dur. Beliau adalah sosok yang luar biasa, meskipun kontroversial dengan gagasan-gagasannya yang sangat cemerlang. Beliau selalu kaya dengan ide-ide yang menghebohkan dan turut menyumbangkan banyak pemikirannya untuk kemajuan dan negara Indonesia tercinta ini. Banyak persoalan bangsa mulai sosial, kemiskinan ekonomi, politik, hukum, budaya, kepemimpinan hingga persoalan-persoalan internasional tidak luput dari singgungan kritik serta pembahasan Gus Dur.

Ketika ada wacana “Indonesia diformat seperti apa”, kemudian kelompok garis keras mengusung negara Islam di Indonesia (Islamisasi Indonesia), Gus Dur pun angkat bicara. Beliau tidak sepakat dan sangat menolak itu Pasalnya, Islam tidak mengatur tentang negara Islam, yang ada adalah rnasyarakat madani (Civil society) sebagaimana dalam masyarakat Madinah saat rasulullah masih hidup. Masyarakat dengan tatanan kernasyarakatannya yang hidup tentram, sejahtera dan lain seterusnya. Tidak ada percekcokan apapun di antara mereka kendatipun perbedaan agama, keyakinan dan lain sebagainya tetap hadir pada zaman itu (baca: pribumisasi Islam). Begitu pula, saat bangsa ini disibukkan dengan persoalan agama yang jarang dan tidak pernah menyentuh persoalan masyarakat, Gus Dur pun muncul sebagai seorang yang hadir dengan ide-ide alternatifnya.

Ia berpendapat bahwa bila selama Islam tidak mampu dan tidak bisa membawa kemaslahatan umat, jangan harap akan terjadi bangunan ke-ummatan yang mengalirkan nilai-nilai kedamaian dan perdamaian di bangsa ini. Justru Islam mendapatkan stempel sebagai agama elit (jauh dari ummatnya) sebab sudah tidak mampu memperjuangkan harkat serta martabat hidup musthadafin dan dhu’afa. Yang jelas, tampilan Gus Dur sebagai pemikir dengan segala kelebihannya itu mencoba menghadirkan relasi agama dan kekuasaan sebagai satu kesatuan guna melawan arus pemikiran yang coba mematikan semangat kemanusian populis. Semangat kemanusiaan populis adalah nilai-nilai yang berjalin kelindan dengan kekuatan perubahan guna mencapai hidup ideal antara negara dan agama terjalin satu komunikasi yang harmonis, penuh pengertian dan terlibat dalam pembangunan bangsa yang beradab dan berkeadilan.

 

Gus Dur dalam konteks persoalan itu tidak henti untuk memasarkan gagasannya agar dan agama sama-sama aktif partisipatoris membela kepentingan masyarakat tertindas. Akhirnya, bermuara guna membentuk satu komitmen mulia dan suci untuk menyongsong hidupan rakyat yang  dengan nir-konflik. Agama dan negara menjadi penyelamat kehidupan rakyat dari penderitaan multidimensional. Menariknya lagi, tatkala bangsa ini juga pernah mengalami persoalan carut marut kepemimpinan yang sangat cenderung represif dan eksploitatif selama bertahun-tahun sehingga kondisi ironis demikian menciptakan kehidupan politik cukup keruh.
Dengan kata lain, banyak pemimpin negeri ini sudah lupa daratan, silau dengan harta dan jabatan, kemudian mengabaikan tanggung jawab sosialnya untuk memperjuangkan hak-hak hajat hidup orang banyak, Gus Dur pun ikut  prihatin dengan realitas politik pahit tersebut. Beliau lalu melontarkan pendapat-pendapat cerdasnya. Sebetulnya, pemimpin-pemimpin negeri ini sudah bersikap dan bertindak politik sedemikian hina tersebut karena mereka sudah kehilangan nalar politik kerakyatan. Sudah tidak ada ruang terbuka dalam mindset-nya berpikir jernih, terbuka dan jujur. Sikap politik kerdil, picik, sempit, koruptif dan kolutif sudah menyelimuti nalar politiknya sehingga ini menyebabkan mereka buta terhadap realita sesungguhnya sebagai pembela, pejuang penyejahtera rakyat.

Dalam demokrasi pun juga demikian, beliau sangat getol rnenyuarakan kebebasan berpendapat pasca runtuhnya rezim Orde Baru. Tak tanggung-tanggung, hak hidup warga Tionghua yang awalnya dalam era Orde Baru mendapat tekanan polìtik sehingga tidak bisa berpendapat dan berekpresi, Gus Dur menjadi orang pertama yang memberikan ruang kepada mereka agar hak dasar tersebut bisa terpenuhi sebagai bagian dan warga negara Indonesia. Tentu bila mencermati sepak terjang Gus Dur, kita kemudian bisa mengatakan bahwa beliau sangat lengkap di perbagai aksi keberpihakannya terhadap bangsa dan negara ini. Bahkan pula sebagai orang yang hidup di dunia global pun, Gus Dur mengambil andil dalam menyoroti persoalan konflik politik Palestina. Beliau berpendapat bahwa konflik Palestina dengan Israel akan tuntas bila konflik Timur Tengah tersebut tidak selalu dipolitisasi pihak-pihak tertentu. Negara-negara Arab dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berkewajiban untuk menyudahi persoalan tersebut. Negara-negara lain hanya biasa meyerukan seruan moral politik dan mengirimkan bantuan-bantuan kemanusiaan kepada negeri konflik tersebut (baca: konflik Palestina vs Israel).

Harapan Rakyat 

Diakui maupun tidak, kini bermunculan harapan banyak rakyat Indonesia, elemen sosial mulai dan partai politik (parpol), organisasi masyarakat (ormas) dan lain seterusnya yang mengehendaki agar Gus Dur memperoleh gelar pahlawan nasional. Pasalnya, perjuangan dan sumbangsih yang beliau berikan untuk bangsa dan negara ini tidak jauh berbeda dengan perjuangan dan sumbangsih yang diberikan pejuang kemerdekaan. Yang membedakan hanyalah pola perjuangan yang dilakukan. Bila para pejuang kemerdekaan bangsa ini dari penjajahan secara fisik demi mempertegas kemerdekaan Indonesia secara de jure dan kemudian diakui dunia, maka Gus Dur berhasil membebaskan Indonesia dan bentuk hegemoni pemikiran yang sangat kerdil dan sempit. Dengan kata lain, beliau berhasil memasukkan dan menanamkan nilai–nilai pluralisme, toleransi, demokrasi multikulturallisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Hal tersebut merupakan sebuah prestasi yang sangat luar biasa. Belum ada pemimpin seperti Gus Dur yang melakukan hal tersebut. Oleh sebab itu, kini yang menjadi pertanyaan adalah apakah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan mengabulkan harapan rakyat tersebut ataukah tidak? Yang jelas, kearifan dan kebijaksanaan seorang SBY dalam mencoba mengingat kembali seberapa besar perjuangan Gus Dur demi bangsa dan negara merupakan jalan yang niscaya untuk bisa melahirkan sebuah keputusan yang menghargai seorang tokoh besar pemimpin besar dan ulama besar.

 

Dikutip dari : Buku Gus Dur Sebuah Testimoni Lintas Agama (LAKPESDAM NU Cabang Kota Malang, 2010)