TARIKH

Jejak Para Kyai Legendaris Malang Raya – Kyai Badrussalam

KH. Badrussalam

(Klojen-Malang 1901 – 1974 M)

 

Kyai Badrussalam tidak mendirikan pesantren sebagaimana Kyai dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) pada umumnya. Kendati demikian, konsistensinya berdakwah di jalan Allah membuat dia dikenang hingga kini. Sebuah Mural dengan aneka warna ini terlihat mencolok ketika memasuki Jalan Ade Irma Suryani atau Tongan Gang 1, Kasin, Klojen, Kota Malang. Terdapat dua gambar mantan Presiden Indonesia yakni Soekarno dan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Di sebelahnya, terlihat orang yang memakai jas hitam, baju putih, dan serban yang melilit di kepala.

Suparmanto, salah seorang cucu KH. Badrussalam, Rabu lalu mengatakan bahwa dirumah beliau adalah yang Suparmoto tempati yang sakarang ini, dan  ada di dekat Mushollah tersebut. Mural tersebut merupakan gambar Almarhum Kyai Badrussalam. Sepelempar batu dari Mular ini, ada Mushollah yang juga bernama Musholla KH. Badrussalam. Tujuan Mural ini jelas untukk anak-anak Mushollah dapat mengenang beliau sekaligus sebagai media mereka dalam berkesenian.

Mural dan Mushollah yang ada di Tongan ini merupakan sedikit bukti masyhurnya Kyai yang wafat pada 2 Februari 1974 silam itu. Makamnya berada di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kasin, Kota Malang. Kyai asal Solo tersebut meninggal dunia pada umur 73 tahun. Beliau mempunyai sembilan anak dan 16 cucu. Kini, sisa ada empat orang anak KH. Badrussalam yang hidup. Berbeda dengan Kyai Nahdlatul Ulama (NU) pada umumnya, Kyai Badrussalam bukanlah Kyai yang punya Pondok Pesantren. Semasa hidupnya Kyai Badrussalam merupakan salah satu pendiri sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) KH. Badrussalam yang ada di Tongan.

Meski bukan menjadi pengasuh pesantren, tapi Kyai Badrussalam cukup di kenal, khususnya di kalangan NU. “di kota Malang beliau adalah salah satu Kyai yang luar biasa kalau tidak salah beliau dulu salah satu dewan Suriyah NU Kota Malang,” informasi tersebut dari ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang (PC) NU Kota Malang yakni KH. Dr. Isroqunnajah, M. Ag.

Sementara itu, Hj. Suciati, 63, anak kedelapan KH. Badrussalam, mengatakan kalau ayahnya selama hidup dikenal sebagai Kyai yang istiqomah. Salah satunya sangat istiqomah ketika menjadi imam Masjid Agung Jami’ Kota Malang. Ibadah sholat lima waktu beliau selalu menjadi Imam. Sikap beliau yang istiqomah inilah yang menurut Suciati luar biasa.

Di Masjid terbesar di Kota Malang ini, selain menjadi imam sholat, Kyai. Badrussalam juga mengajar mengaji. Menurut Suciati salah satunya adalah Ahmad Hudan Dardiri. Pria yang meninggal pada 2007 ini pernah menjabat sebagai Walikota Jombang dan Walikota Pasuruan.

Selain mengajar di masji Jami’k, kyai Badrussalam juga mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kyai Badrussalam di daerah Tongan. Di sekolah ini ada banyak Kyaii yang mendirikan, salah satunya abah saya. Dan di sekolah ini, beliau juga menjadi kepala sekolah, kata alumni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel, Surabaya (sekarang menjadi UIN Sunan Ampel).

Pagi hingga siang hari Kyai Badrussalam menghabiskan waktu untuk mengajar di sekolah tersebut. Ketika malam hari sehabis sholat maghrib, Kyai Badrussalam mengajar dari Musholla ke Musholla yang ada di Kota Malang. Bahkan dalam seminggu hampir setiap malam beliau memberi pengajian di Musholla. Hanya saja, Suciati tidak ingat betul dia (KH. Badrussalam) mengajar mengaji di Musholla. Salah satu yang dia ingat, Kyai Badrussalam mengajar di salah satu Musholla yang ada di Kasin, dan kitab yang diajarkan salah satunya adaalah kitab Tafsir Jalalaen.

Terdapat Musholla dengan nama Kyai Badrussalam di daerah Tongan, meskipun menurut Suciati, yang mendirikan Musholla ini bukanlah kyai Badrussalam. Mushollah itu, menurutnya, dibangun di tanah wakaf Mbah Cokro, yang tidak lain adalah ayah dari istri Kyai Badrussalam yakni Nyai Tursinah. Nyai Tursinah sendiri wafat pada 1978 silam atau empat tahun setelah kepergian Kyai Badrussalam. Dan alau soal nama Mushollah itu,  masyarakat sendiri yang memilih nama kyai Bahrussalam, mungkin karena rumah beliau dekat dari Mushollah itu, sekaligus untuk mengenang sosok kyai Badrussalam.

 

Dikutip dari : Buku Jejak Para Kyai Legendaris (Madani, 2016)