Jejak Para Kyai Legendaris Malang Raya – Kyai Masjkur
KH. Masjkur
(Singosari-Malang, 1900-1992 M)
Wilayah Malang raya terkenal mempunyai segudang kisah ulama’ tersohor. Nama Kyai yang satu ini tidak hanya terkenal perjuangannya menyebarkan ajaran agama Islam saja, tapi juga menduduki posisi penting dan strategis di tampuk pemerintahan. Dialah KH Masjkur, ulama asal Singosari Malang tersebut empat kali menjabat sebagai menteri di era Presiden Soekarno.
Kyai Masjkur memang selalu dikenal selalu haus dengan ilmu agama, sehingga kerap belajar. Selain belajar kepada KH Thohir Bungkuk, beliau juga pernah nyantri di beberapa Pondok Pesantren. Diantaranya belajar ilmu Nahwu Shorof di pondok pesantren Sono yang terletak di Kota Sidoarjo dan belajar ilmu Fiqh di Siwalan Panji yang juga berada di Kota Sidoarjo.
Informasi dari Gus Anas Nur Salim, selaku keponakan dari KH Masjkur bahwa beliau berasal dari daerah kaki Gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah, dan kemudian datang ke Malang, untuk mencari ayahnya, yakni Kyai Ma’shum. Kemudian beliau diambil mantu oleh Kyai Kholil. Kyai Kholil sendiri adalah menantu Mbah Tohir Bungkuk. Singosari. Kyai Masjkur dinikahkan dengan putrinya Kyai Kholil, yakni Nyai Chalimah pada usia 27 tahun.
Pada waktu itu pula Kyai Ma’sum (ayah Kiya Masjkur), meninggal dunia dan dengan sendirinya beban orang tua dilimpahkan kepada bahu Kyai Masjkur. Kyai Masjkur ditugaskan untuk membesarkan, mengasuh dan mengawinkan adik-adiknya. Sejak kecil Masjkur sudah dididik untuk hidup sederhana, dan dia menyaksikan sendiri bagaimana kedua orang tuanya hidup tirakat sepanjang ajaran Jawa dan agama Islam. Segala hasil kerja orang tuanya diperjuangkan untuk kepentingan anak-anak, agar mereka itu nanti dapat maju dalam kehidupan. Ajaran kedua orang tuanya itu diterapkan kepada adik-adiknya, dan mereka di ajari hidup serba hemat, apa adanya, rajin dan tetap beribadah kepada Tuhan. Putra Beliau (Kyai Masykur) hanya satu, yaitu Drs. H. Saiful Masykur yang sekarang berdomisili di Jakarta.
Putra beliau dari istri yang kedua, yakni cucu dari Mbah Tohir yang bernama Bu Nyai Fatimah. Sebab, dengan Istri sebelumnya beliau tidak memiliki anak, yang juga masih cucu dari Mbah Tohir, yang kemudian meninggal di Makkah. Prinsip Kyai Masjkur yang masih di ingat oleh Gus Anas Nur Salim adalah kalau diberikan jabatan (amanah) jangan menolak, tetapi jangan meminta jabatan.
Karomah Kyai Masjkur
Menurut Gus Anas, beliau bukan dari golongan Auliya’. Namun beliau adalah orang yang alim, yang terjun dalam politik praktis sehingga masuk dalam sistem pemerintahan. Pernah menjadi Panglima Hizbullah dan mendirikan Masjid Sabilillah Kota Malang. Beliau juga terkenal dengan sikap kedermawanan dan rendah hati. Sehingga beliau dipercaya menjadi menjadi Menteri Agama sebanyak empat kali.
Diceritakan oleh Asma’ul Azizah, dia adalah cucu dari Mbah Ma’ruf yang merupakan sahabat karib Kyai Masjkur bahwa berdirinya musholla Baitul Ma’ruf yang berada di daerah Arjosari-Malang, juga karena jasa dari Kyai Masjkur. Ketika pada saat itu, Mbah Ma’ruf ingin mendirikan sebuah Musholla. Namun karena keterbatasan dana, beliau meminjam uang yang lumayan banyak kepada Kyai Masjkur. Dikembalikannya hutang uang tersebut setelah setiap kali Mbah Ma’ruf panen dari sawahnya. Dan kini, Musholla Baitul Ma’ruf tersebut tetap berdiri kokoh dan semakin banyak masyarakat yang berbondong-bondong untuk sholat lima waktu di sana.
Dalam perjalanan pendidikan Kyai Masjkur, hanya di pendidikan agama saja. Bahkan, anak dari pasangan Maksum dan Maimunah itu pernah berguru kepada dua Ulama besar pendidiri Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Yakni belajar ilmu tafsir dan hadist pada Hadrotus Syekh Muhammad Hasyim Asy’ari dan ikut mengaji di KH Ahmad Dahlan, Jogjakarta. Tapi karena kehidupannya lebih lama bersinggungan dengan Kyai Thohir Bungkuk, maka kyai yang sekaligus mertuanya itulah yang mempengaruhi pemikirannya. termasuk keberaniah Kyai Masjkur membentuk Laskar Sabilillah untuk melawan penjajah Belanda dan Jepang demi mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Menurut Mas’ud Ali salah satu jamaah Kyai Masykur yang kini menjabat Ketua Umum Yayasan Sabilillah Malang, bahwa beliau dalam peperangan bergerilya ke Pacitan, Blitar dan beberapa wilayah di Jawa Timur demi melawan penjajah Belanda dan Jepang. Memang tidak banyak referensi yang mengupas secara detail perjuangan Kyai Masykur yang melawan penjajah Belanda dan Jepang. Namun, Laskar Sabilillah yang dipimpinnya untuk bergerilya itu dibawah komando Panglima Besar Jendral Soedirman.

Kediaman Beliau, yang terletak di Jalan Masjid, Singosari-Malang
Dalam karir keorganisasiannya, beliau mendirikan NU Cabang Malang (sekarang disebut PCNU), sekaligus menjadi ketua untuk kali pertamanya. Perjuangan Kyai Masjkur melalui Organisasi Masyarakat (Ormas) itu membuatnya semakin dikenal. Bahkan beliau dijajarkan dengan tokoh-tokoh Nasional.
Setelah Indonesia merdeka dan Soekarno menjabat sebagai Presiden, Kyai Masjkur ditawari menjadi Menteri Agama (Menag) di era kabinet Amir Syarifuddin ke-2. Selanjutnya di era kabinet Hatta, Kyai Masjkur kembali dipercaya menjadi Menag. Kemudia pada tahun 1949 silam, terbentuk Kabinet RI peralihan, lagi-lagi Kyai Masjkur masih dipercaya menjadi Menteri Agama. Tiga kali memegang jabatan politik membuat nama Kyai Masjkur semakin berkibar. Terutama di kalangan NU, sehingga pada tahun 1952 silam, dia didapuk menjadi Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Pada kabinet Ali-Wongso-Arifin, Kyai Masjkur kembali dipercaya menjabat Menag. Namun, jabatan yang diterima keempat kalinya itu sudah mewakili partai politik (parpol), yakni partai NU. Selama menjabat sebagai Menag, Kyai Masjkur menggagas pembuatan Al-quran raksasa sebagai pusaka bangsa. Beliau ingin Islam sebagai agama yang dianut mayoritas penduduk Indonesia dan menjadi monumen, yakni Al-quran raksasa. Empat kali menjabat sebagai menteri itu dijalaninya selama pemerintahan Presiden Soekarno. Kyai Masjkur memang dikenal sangat dekat dengan Presiden Soekarno.
MENDIRIKAN MASJID SABILILLAH SEBAGAI SIMBOL NASIONALISME
Tidak banyak ulama’ yang sukses dalam meniti karir di dunia politik praktis seperti Kyai Masjkur. Selain dipercaya Presiden Soekarno menjabat sebagai menteri di empat kabinet berturut-turut, Kyai Masykur menjadi orang dekat Presiden Soeharto.
Sekilas tidak ada yang aneh dengan konstruksi Masjid Sabilillah, namun jika diamati lebih teliti, masjid peninggalan Kyai Masykur itu mempunyai filosofi nasionalisme. Misalnya, pilar masjid berjumlah 17 unit. Tinggi pilar dari lantai menuju atap setinggi 8 meter dan tinggi menara 45 meter. Itu menjadi simbol Tanggal Kemerdekaan Republik Indonesia, yakni pada tanggal 17 Agustus 1945 (17-08-1945).
Menurut M. Mas’ud Said, selaku ketua Yayasan Sabilillah Bidang Sosial Kemasyarakatan bahwa Kyai Masjkur ingin menjadikan masjid ini sebagai lambang perjuangan, kemerdekaan, dan sekaligus rekatnya nasionalisme serta agama.
Sejarah pembangunan Masjid Sabilillah ini memang kental dengan nuansa perjuangan. Pendirinya, Kyai Masjkur adalah pemimpin pasukan gerilyawan yang turut melawan penjajahan Belanda dan Jepang. Namanya Laskar Sabilillah. Nama Laskar Sabilillah inilah yang kemudian hari menjadi dijadikan masjid ini.
Ketua Umum Masjid Sabilillah Mas’ud Ali mengatakan, bahwa Masjid Sabilillah menjadi monumen perjuangan Kyai Masjkur. Sejak dibangun pada tahun 1970 silam, pendirian masjid penuh sejarah. Pembangunannya memakan waktu hingga 10 tahun. Biaya pembangunan berasal dari uang rakyat, tapi dibangun diatas tanah negara. “karena pembangunannya memakan waktu 10 tahun, ya mestinya menunggu sumbangan dari warga juga.” Kata Ali yang juga santri Kyai Masjkur tersebut. Hingga kemudian nama Kyai Masjkur di abadikan menjadi sebuah Hall dsamping masjid Sabilillah untuk mengenang jasa-jasa beliau. Hall Kyai Masjkur tersebut dapat di gunakan untuk kegiatan sosial-keagamaan, bahkan biasanya digunakan untuk kegiatan pelaatihan-pelatihan terutama pengurus NU Malang-raya.
Dari proses pembangunan masjid itu, ketokohan Kyai Masjkur di kancah nasional semakin tampak. Tidak hanya sepak terjangnya yang sukses menjabat sebagai Menteri Agama (Menag) di empat kabinet berturut-turut. Namun juga dikenal dekat dengan dua Presiden RI, yakni Soekarno dan Soeharto.
Kedekatannya dengan Soekarno terlihat dari jabatan menteri yang diembannya. Keempat kabinet selama Kyai Masjkur menjabat sebagai Menteri Agama, masih di era Soekarno. Sementara kedekatannya dengan Soeharto baru diketahui sejak pembangunan Masjid Sabilillah Malang.
Kala itu lahan seluas 4.000 meter persegi yang kini berdiri Masjid Sabilillah tersebut merupakan tanah milik Negara. Prosesnya sangat sulit kalau membebaskan lahan tersebut. Belum lagi besarnya biaya yang harus dikeluarkan jika negara melepas tanah tersebut. Tentu panitia akan merasa kesulitan mencari uang untuk membeli lahan tersebut. Akan tetapi kedekatan beliau dengan Presiden Soeharto membuat pembangunan masjid Sabillah dapat terwujud dengan cepat.
Makam Kyai Masjkur berada satu kompleks dengan makam gurunya, KH Momammad Thohir di dusun Bungkuk, Desa Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Semasa hidup (1900-1992), Kyai Masjkur sempat nyantri dan menjadi salah satu murid kesayangan Kyai Thohir.
Saat Kyai Masjkur wafat pada tahun 1992 silam, banyak tokoh Nasional datang ke rumah duka di Singosari, Kabupaten Malang. Diantaranya Abdul Malik Karim Amrullah alias Abuya Hamka, budayawan sekaligus ulama kondang. Perlu diketahui bahwa Buya Hamka itu adalah stafnya Kyai Masjkur selama di Depag (sekarang disebut kemenag). Tokoh lain yang menghadiri pemekaman adalah R. Hartono, yang merupakan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) di era Presiden Soeharto. Namun saat didapuk menjadi komandan upacara pemakaman jenazah Kyai Masjkur, R. Hartono masih menjabat Pangdam V Brawijaya.
Sejak semasa KH. Masjkur nyantri di pondok Siwalan Panji, Beliau sudah mempunyai teman akrab dan santri-santri muda untuk mengadakan diskusi (di ambil dari buku I.N. Soebagiyo. 1982. K.H. MASJKUR; Sebuah Biografi. Jakarta: PT Inti Idayu Pres.
Dikutip dari : Buku Jejak Para Kyai Legendaris (Madani, 2016)