Ziarah Pemikiran Gus Dur
Gus Dur Bapak Bangsa
Oleh:
Pdt. Drs. W Josia Dharma
Pemikiran dan tindakan seseorang mencerminkan pribadi orang tersebut, tidak terkecuali KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). nilai-nilai yang muncul sebagai buah pemikiran (ide) akan dapat berkembang menjadi sesuatu yang idealis bila buah pemikiran tersebut membawa suatu perubahan radikal, berdampak balk dan dapat diterima secara umum atau general. Hasilnya adalah suatu nilai yang harus diteruskan menjadi tindakan nyata. Jika tidak, nilai buah pemikiran (ide) yang baik tersebut hanya tinggal kenangan.
Menelusuri jalan pernikiran Gus Dur memang tidaklah mudah dan membutuhkan pendekatan yang terfokus (bukan sekedar menyimak saja) maupun pengalaman secara pribadi dengannya, namun secara umum ide-ide
Gus Dur dapat kita mengerti apabila kita mencerna dan memberi ruang bagi pemikiran beliau, khususnya dalam konteks pluralitas. Karena pluralitas dapat dipandang dari berbagai sudut pandang atau paradigma yang berbeda.
Dalam konteks pluralitas Indonesia adalah Negara unik dengan berbagai macam corak pluralistiknya. Bukan hanya agama, suku, ras, bahasa, adat, dan lain sebagainya. Perbedaan-perbedaan ini bahkan melampaui batas wilayah
teritorial, misalnya satu wilayah bisa terdapat perbedaan agama, bahasa, ras. adat, dan sebagainya. Situasi ini sangat memerlukan gaya kepemimpinan yang cocok dan dapat mengakomodir berbagai macam perbedaan tersebut. Saya melihat Gus Dur memiliki gaya kepemimpinan paternalis (kebapaan), karena hanya dengan gaya kepemimpinan ini yang dapat mengatasi berbagai perbedaan yang tajam sekalipun.
Seorang bapak akan memperhatikan keberadaan anak-anaknya dengan tidak mengorbankan salah satu anaknya. Dia akan bereaksi dengan berani bila timbul perselisihan, pertikaian diantara anak-anaknya, yang berpotensi menghancurkan anak bangsa. Gus Dur menyadari keberadaannya sebagai bapak bangsa dan setiap warga negara Indonesia patut mendapat perhatian bapaknya, termasuk yang minoritas.
Gus Dur bukan hanya sekedar guru bangsa. Dia bapak bangsa. Seorang bapak tidak akan rela anak-anaknya mengalami bentrokan, apalagi cedera dan kehancuran, sikap tidak pilih kasih adalah cerminan seorang bapak yang bijaksana. Tandanya kita merasa diayomi dan dilindungi, hingga timbul perasaan tenang, tentram dan damai sejahtera. Itulah salah satu nilai dan sekian banyak pernikiran Gus Dur yang perlu diteruskan demi kesinambungan hidup berbangsa dan bernegara di Republik tercinta ini, Indonesia Raya.
Kita harus fair dalam mengungkapkan sesuatu tentang pribadi seseorang, termasuk Gus Dur. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dan sikap Gus Dur, terkadang Gus Dur lupa bahwa sederet jabatan melekat dalam dirinya sehingga pernyataannya akan menimbulkan dampak yang sangat luas. Gus Dur ucapkan kalimat-kalimat kritis, namun terkadang lupa akan keberadaan dirinya. Menyoal bisi membisik misalnya. Terkadang siapapun yang membisikan sesuatu ke telinganya langsung diucapkan secara spontan. Respon spontan kemudian muncul, ‘emangnya gue pikirin”.
Namun yang unik adalah sejengkel apapun orang terhadap pernyataan Gus Dur mereka tidak sanggup membalas pernyataan tersebut mengapa? Gus Dur memberikan pernyataan benar adanya. Ambil contoh rnengenai “DPR koq seperti taman kanak-kanak”.
Anggota Dewan merah padam mukanya. Namun demikian perilaku angota Dewan atau Wakil rakyat terkadang mirip kanak- kanak. Mungkin Gus Dur berpikir, sebagai seorang bapak dia dapat menyampaikan pesan-pesannya sebagaimana seorang bapak terhadap anaknya, sekarang kembali ke sikap setiap bangsa, dalarn menyikapi pernyataan pernyataan Gus Dur, “Gitu aja Koq Repot !!!”.
Terimakasih.
Dikutip dari : Buku Gus Dur Sebuah Testimoni Lintas Agama (LAKPESDAM NU Cabang Kota Malang, 2010)