TARIKH

Jejak Para Kyai Legendaris Malang Raya – Kyai Moh Sa’id

KH.Mohammad Said

(PPAI Ketapang-Kepanjen, 1901-1965 M)

 

Kyai Mohammad Sa’id lahir pada tahun 1901 M di Jln. Tongan Kota Malang. Nama Ayah beliau adalah Kyai Mohammad Anwar. Sedang nama Ibu beliau adalah Nyai Lis. Keturuan asli Jawa dan Wafat pada tanggal 1 Desember 1965. Kyai Mohammad Sa’id dikenal luas sebagai ulama besar yang pernah hidup di awal abad ke-20. Bahkan, selepas kepergiannya pada 1965 silam, Karomah Kyai M. Sa’id masih bisa dirasakan hingga sekarang. Seperti beberapa ulama yang lain, Kyai Said dimakamkan di kompleks pondok pesantrennya.

Pondok Pesantren putra-putri Pendidikan dan Perguruan Agama Islam (PPAI)  menjadi salah satu warisan besar Kyai Mohammad  Sa’id. Pondok Pesantren  ini sudah berdiri sejak tahun 1949 silam. Berada di daerah pedesaan, tepatnya di Dusun Ketapang, Desa Sukoharjo, Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang membuat Ponpes PPAI Ketapang Kepanjen menjadi tempat yang cukup strategis untuk mendalami ilmu agama. Sebab, daerah tersebut jauh dari kebisingan lalu-lalang kendaraan di jalan raya dan udaranya pun masih terbilang sejuk, dan asri dekat dengan persawahan desa Sukoharjo.

Lokasi makam Kyai M. Sa’id tepat berada di tengah-tengah kompleks Pendidikan dan Perguruan Agama Islam (PPAI) Ketapang. Di kompleks pondok PPAI, makam Kyai Said tidak sendirian., terdapat beberapa tokoh lain yang dimakamkan di tempat yang sama dengan Kyai Said.

Berdasarkan informasi dari pengurus PPAI Ketapang,  bahwa istri Kyai Said yakni Siti Fatimah juga dimakamkan di tempat yang sama. Berikut delapan tokoh lain. yakni Tauhid Asad Malik yang merupakan anak angkat Kyai Said, beserta istrinya, Siti Zubaidah Tauhid. Kemudian ada makam orang-orang terdekat Kyai Said dan santrinya. Antara lain ada KH. Umar Fakih, KH. Makinuddin, KH. Kholidul Azhar, KH. Mamad Suaedi, KH. Saefuddin Zuhri, dan KH. Imam Asfali. Sedangkan nama yang terakhir adalah ulama besar dari Masjid Noor Kidul Pasar (selatan pasar).

Suasana makam di kompleks PPAI Ketapang, hampir tiap harinya tidak pernah sepi dari aktivitas. Minimal, selalu ada santri-santri PPAI Ketapang yang berziarah dengan membaca Al-Qur’an di tempat tersebut. Sedangkan pada saat haulnya Kiya Said, peziarah akan membludak dan ramai baik alumni, santri dan masyarakat sekitar Kepanjen. Haul kyai Said sendiri  jatuh setiap tanggal 15 Sya’ban. Akan tetapi, biasanya 15 hari sebelum haul ada beberapa rangkaian acara. Mulai dari wisuda santri, kegiatan cerdas cermat atau lomba-lomba, hingga puncaknya pada tanggal 15 Sya’ban yang diisi dengan tartil  Al-Qur’an.

Para peziarah yang datang tidak hanya berasal dari Malang Raya, tetapi juga berasal dari beberapa daerah lain di Pulau Jawa. Bahkan dari berbagai daerah di Indonesia pun dating untuk merayakan acara haul kyai Said. Maklum, santri dari PPAI Ketapang tersebar luas di berbagai daerah di Indonesia. Alasan yang tidak kalah pentingnya adalah, Kyai Said mempunyai kharisma yang luar biasa. Karomahnya sudah tersebar dari mulut ke mulut, melintasi beberapa generasi. Ustad Abdul Adzim Irsyad, salah seorang alumnus Umm Al Qura University, Makkah, menulis riwayat fenomenal dari sang Kyai, sehingga cukup dikenal di kalangan santri PPAI Ketapang.

Terdapat 950 santri putra-putri yang kini nyantri di pesantren ini. Khusus momen bulan Ramadhan, kegiatan pesantren lebih padat saat malam harinya. Biasanya mulai pukul 22.30. informasi dari sekretaris Ponpes PPAI Ketapang, Muhammad Taufiq bahwa kegiatan itu bahkan terus berlangsung hingga shalat Subuh, dan para santri biasanya tidur pada pukul 08.00 pagi. Sebab, waktu malam harinya banyak digunakan untuk mendekatkan (taqorrub) kepada Alloh SWT.

Masih menurut M. Taufiq, bahwa aktivitas pengajian ini biasanya dibagi dalam beberapa kelas, sesuai dengan jenjangnya. Ada kelas Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah. Apapun materinya yang diberikan di kelas, dasarnya sama. Disini yang paling penting adalah akhlaqul karimah kepada Allah (hablul minAlloh), dan sesame (hablul minannas). Konsep pengajaran dan metodenya juga mengacu pada apa yang diaplikasikan oleh Kyai Mohammad Sa’id persis saat beliau mengajarkan ilmu kepada para santrinya. Hal itu semata-mata mengenang metode pengajiannya Kyai, yang semasa hidupnya beliau dikenal sebagai kyai yang karismatik dan berilmu tinggi.

 

Kyai Moh. Sai’d Kuasai Empat Bahasa Internasional

Semasa hidupnya, Kyai Mohammad Sa’id pernah mendapat kepercayaan besar dari Ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari   yakni memperkenalkan NU keberbagai penjuru dunia. Kepercayaan itu menunjukkan bahwa Kyai Mohammad Sa’id bukanlah sosok kyai sembarangan.

Dalam riwayat pendidikannya, Kyai Sa’id termasuk ulama yang sangat beruntung karena mengenyam dua jenjang pendidikan di era penjajahan Belanda. Beliau sekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS) selama tiga tahun, antara tahun 1911 hingga tahun 1914. Setelah itu, Kyai Sa’id melanjutkan sekolah di English Language School (ELS) selama lima tahun, antara tahun 1914 sampai tahun 1919.

Oleh karena itu, tidak heran jika beliau bisa menguasai beberapa bahasa Internasional. Selain bahasa Belanda, juga lihai bahasa Jerman, Inggris dan Rusia. Bahkan, ada satu riwayat yang mengatakan bahwa Kyai Sa’id memiliki keturunan darah bangsa Eropa. Memang cukup masuk akal bila ada yang mengatakan demikian. Lihatlah dan amati lukisan wajah Kyai Sa’id di kompleks PPAI Ketapang Kepajen, atau bisa searching di Google. Wajah Kyai Sa’id memang berbeda dengan wajah pribumi pada umumnya, kulitnya yang putih agak kemerah-merahan.

Sebelum benar-benar menekuni syi’ar agama Islam, Kyai Sa’id pernah menjadi pegawai di kantor pos Jember, antara tahun 1920 hingga tahun 1925. Kemudian pada tahun 1925, Kyai Sa’id menikahi seorang perempuan dari Kidul Pasar Malang bernama Siti Fatimah. Pada tahun yang sama, Kyai Sa’id menjadi pegawai di kantor Guberbur Jawa Timur Surabaya. Namun hanya bertahan dua tahun, beliau memutuskan untuk mundur dari kepegawaian pada tahun 1927. Kemudian Kyai Sa’id memulai mondok di Pondok Pesantren Salafiyah Siwalan Panji, Sidoarjo. Lulus dari PP. Salafiyah Siwalan Panji, Sidoarjo, beliau kembali ke Malang dan mendirikan pondok pesantren di Sonotengah-Pakisaji, Malang pada tahun 1931.

Pada tahun 1945 hingga tahun 1948, Kyai Sa’id menggerakkan tentara Hizbullah dan ikut dalam perjuangan mengusir penjajah Belanda. Sedangkan, pada tahun 1948, beliau mendirikan pondok di Karangsari-Bantur, Malang demi menyelamatkan santrinya dari kepungan tetara penjajah Belanda. Hingga akhirnya pada tanggal 28 oktober 1949, Kyai Sa’id mendirikan pondok pesantren PPAI Ketapang, Kepanjen Malang. Kyai Sa’id pernah menjadi Ro’is Syuriah Nahdlatul Ulama (NU) kabupaten Malang dan sekaligus menjadi pengasuh di Ponpes PPAI Ketapang, Kepanjen.

Kiprah Kyai Sa’id tidak hanya berhenti di lingkup Malang raya saja, namun pada tahun 1957, beliau ditunjuk oleh NU sebagai tim safari partai Islam untuk kunjungan kerja ke Moskow (Rusia) dan Karachi (Pakistan). Tetapi dalam hal ini, Kyai Sa’id mewakili dari partai NU, atas reputasi beliau dengan menguasa empat bahasa Internasional.

Menjadi duta NU di tingkat Internasional adalah bukti dari Intelektualitas Kyai Said. Bukti lainnya adalah banyak dari santri-santrinya menjadi Ulama dan Tokoh masyarakat. Sebut saja, KH Imam Asfali, Ulama dari Kidul Pasar Malang, hingga Kyai Mahmud Zubaidi, pendiri Universitas Islam  Raden Rahmat (Unira).

Ada sebuah cerita, pada suatu saat ketika KH. Abdul Hamid, ulama besar dari Pasuruan menyambangi kediaman Kyai Said. Namun sampai tiga kali Kyai Hamid mengucapkan salam “Assalamu’alaikum”, tidak ada jawaban dari Kyai Said. Hingga kemudian, santri Kyai Said datang menghampiri Kyai Hamid. Santri tersebut mengatakan bahwa Kyai Said sedang pergi. Mendengar itu, Kyai Hamid berkata kepada si santri bahwa dirinya akan menunggu kyai Said di masjid. Akan tetapi, tidak lama kemudian, santri itu melihat Gus Kholidul Azhar, putra angkat Kyai Said keluar dari rumah. Santri itu terkejut ketika mendengar pengakuan Gus Azhar bahwa Kyai Said baru saja berbincang-bincang dengan Kyai Hamid di dalam rumah.  Santri dan Gus Azhar sempat berdebat panjang. Sebab, santri tersebut tidak percaya bahwa Kyai Hamid ada di dalam rumah, begitu pun dengan Kyai Said.

Di tengah kebingungan keduanya, tiba-tiba mobil Holden Kyai Said datang. Kyai Said lalu keluar dari dalam mobil bersama sang istri, Nyai Siti Fatimah. Tentu saja, pemandangan ini membuat santri dan Gus Azhar makin bingung. Gus Azhar lalu menghampiri Kyai Said. “Abah, wonten…,” kata Gus Azhar. Tapi belum sampai Gus Azhar menyelesaikan kalimatnya, Kyai said langsung menjawab. “Kyai Hamid? Wis… Wis… Abah wis ketemu kok (bapak sudah ketemu kok),” ujar Kyai Said. Gus Azhar dan santri tersebut semakin bingung seolah tidakk percaya dengan apa yang sedang terjadi.

Inilah salah satu bukti karomah yang dimiliki Kyai Said. Karomah yang membuat banyak orang menjadi segan kepada Kyai karismatis ini. Bahkan, seorang ulama besar, yakni Kyai Dahlan pernah menitipkan putranya kepada Kyai Said. Sebab, putra Kyai Dahlan itu bandel dan suka berpindah-pindah dari satu pesantren ke pesantren yang lain.  Akan tetapi, lewat keistimewaan yang dimiliki, Kyai Said mampu mendidik putra Kyai Dahlan itu. Adapun nama putra Kyai Dahlan itu adalah Suyuthi Dahlan yang di kemudian hari menjadi ulama besar di Malang. Dalam perjalannnya, KH. Suyuthi Dahlan akhirnya menjadi pendiri PP Nurul Ulum Kacuk Malang.

 

 

Dikutip dari : Buku Jejak Para Kyai Legendaris (Madani, 2016)