99 Kyai Kharismatik NU

KH. AS’AD SYAMSUL ARIFIN
SITUBONDO JAWA TIMUR
WAFAT: 1410 H / 1990 M


LAHIR DI MEKKAH DAN KETURUNAN SUNAN KUDUS

Kiai As’ad lahir pada tahun 1897 M di Mekkah. Tidak ada yang tahu secara pasti tanggal dan bulan kelahirannya. Saat itu kedua orang tua, KH. R. Syamsul Arifin dan Nyai Maimunah sedang menunaikan ibadah haji. Mereka kembali ke kampung halaman, yaitu Desa Kembang Kuning Pamekasan Madura tahun 1901 M. Saat itu Kiai As’ad baru berusia 3 tahun.

Konon Kiai As’ad mempunyai silsilah yang sampai kepada Rasulullah Saw serta mempunyai hubungan darah dengan beberapa wali yang menyebarkan Islam di Jawa. Ayah Kiai As’ad, KH. Syamsul Arifin adalah putra KH. A Rahim bin Khatijah binti Ismail bin Zainuddin bin Umar bin Abdul Jabbar bin Khatib bin Sayyid Maulana Ahmad al-Badawi (Pangeran Katandur) bin Panembahan Pakaos bin Syarif bin Sunan Kudus. Menurut catatan sejarah, Sunan Kudus adalah keturunan ketiga belas dari Husain bin Ali putra khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib dari perkawinannya dengan Fatimah az-Zahra putri Nabi Muhammad SAW.

Ibunda Kiai As’ad, Nyai Maimunah, adalah putri KH. Muhammad Yasin, dari perkawinannya dengan Nuri binti KH. Nuruddin bin Kiai Zubair Tsani bin Kyai Zubair Awwal bin Kiai Abdul Halim bin Hamzah bin Khatib bin Qasim (Sunan Drajad) bin Raden Rahmat (Sunan Ampel). Sepupu sekaligus mertua Raden Fatah (Sunan Demak pertama). Dengan demikian Kiai As’ad mempunyai pertalian darah dengan Raden Fatah dan keturunannya.

Ketika As’ad lahir, oleh ayahandanya langsung dipeluk dan dibawa ke Ka’bah. Jarak antara Syi’ib dan Ka’bah memang tidak terlalu jauh, hanya 200 meter. Di sisi baitullah itulah sang ayah membisikkan kalimat adzan dan kemudian memberi nama bayi laki-Iaki itu dengan nama As’ad.

Berkaitan dengan nama As’ad tersebut terdapat suatu anekdot menarik. Al-kisah pemberian nama As’ad itu justru karena mimpi Raden Ibrahim tatkala sang Istri (Siti Maimunah) sedang hamil tua. Konon Raden Ibrahim bermimpi melihat kandungan istrinya membesar lalu melahirkan bayi berbulu macan. Sekujur tubuh bayi itu ditumbuhi bulu seperti bulu singa. Di kedua bahunya tertulis kalimat arab Asad, juga berarti singa. Karena itu tatkala sang bayi lahir, Raden lbrahim memasukkan kata As’ad ke dalam nama bayi tersebut. Dengan demikian, jadilah nama bayi itu As’ad yang dibaca tanpa tanda petik, menjadi Asad yang berarti singa. As’ad juga mempunyai silsilah sampai ke Nabi Muhammad saw dan mempunyai hubungan darah dengan beberapa wali penyebar agama Islam di Jawa, seperti Sunan Drajat dan Sunan Ampel. Sedangkan gelar Raden di depan namanya memang biasa disematkan bagi anggota sebagian keluarga terpandang (aristokrat), sebagai salah satu wujud penghormatan.

Empat tahun sepulang dan tanah suci Mekkah, tepatnya  1908, Kiai Ibrahim, ayah Kiai As’ad, datang ke Situbondo untuk membabat hutan dan mendirikan pesantren. Pilihan tersebut karena petunjuk Kiai As’adullah dari Semarang. Untuk mewujudkan impiannya, kiai Ibrahim harus bekerja keras membabat hutan selama enam (6) tahun. Pada tahun 1914, pesantrennya baru terwujud dalam bentuk sederhana. Kiai Ibrahim terus memimpin pesantren tersebut hingga wafat pada tahun 1951.

 

BELAJAR DI PONDOK PESANTREN

Tatkala berusia 13 tahun, As’ad belajar di Banyuanyar di bawah asuhan kiai Abdul Majid dan KH. Abdul Hamid. Setelah membantu ayahnya mendirikan pondok Sukorejo, As’ad yang kala itu berusia 16 tahun dikirim ke Mekkah untuk memperdalam agama. Di Mekkah, As’ad diterima sebagai murid di Madrasah Shaulatiyyah. Di samping belajar di madrasah, ia juga berguru kepada Sayyid Abbas Al-Maliki, Syekh Muhammad Amin al-Quthbi Al-Yamani, Syekh Hasan Al-Massath, Syekh Bakir, dan Syekh Syarif Al-Syinqithi. Sedangkan teman seangkatan As’ad ketika ini antara lain: KH Zaini Mun’im, KH Ahmad Thaha, KH Baidhawi Banyuanyar Pamekasan.

Setelah beberapa tahun belajar di Mekkah, pada tahun 1928 (kala itu berusia 24 tahun) ia kembali ke Tanah Air. Meski bertahun-tahun belajar di Mekkah, kini As’ad merasa belum cukup ilmu untuk membantu mengajar di pondok. Karena itu, setibanya di Tanah Air, As’ad kembali melakukan perjalanan keilmuan ke pesantren-pesantren lain untuk belajar pada beberapa kiai. Dengan cara ini As’ad bukan hanya dapat memperkaya ilmunya, tetapi sekaligus memperkaya pengalaman hidupnya, bahkan memungkinkan terjadi proses pertukaran keilmuan yang pada gilirannya mendorong terjadinya pengayaan dunia keilmuan di pesantren secara keseluruhan.

Dalam sejarahnya, paling tidak As’ad pernah belajar sekurang-kurangnya di lima pondok pesantren. Pertama, di Pesantren Sidogiri. Pasuruan yang pada waktu itu berada di bawah asuhan KH. Nawawi. Kedua, di Pesantren Siwalan  Panji Buduran Sidoarjo di bawah asuhan KH. Hazin. Ketiga, belajar di Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, Madura. Keempat. di Pesantren Kademangan asuhan Kiai Muhammad Cholil Bangkalan. Kelima, di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah’ di Tebuireng asuhan KH. Hasyim Asy’ari Jombang. Di pesantren terakhir itulah As’ad telah banyak memperoleh kesan mendalam sebagai seorang santri. Menurutnya Tebuireng merupakan pesantren yang paling berpengaruh bagi pembentukan kepribadiannya. Bahkan setiap menyinggung pesantren Tebuireng, ia senantiasa menyebut KH. Asy’ari sebagai guru terakhir yang paling banyak membentuk wataknya. Di pesantren pula As’ad bertemu dengan pemuda-pemuda yang kelak menjadi tokoh dan pendiri pesantren. Mereka itu antara lain, KH. Wahab Chasbullah (pengasuh Pesantren Tambakberas Jombang), KH. Manaf Abdul Karim (Pendiri Pesantren Lirboyo Kediri), KH. Abbas (pendiri Pesantren Buntet Cirebon).

 

MENGELOLA PONDOK PESANTREN

Tepat pada waktu 1938, As’ad mulai aktif membantu ayahnya mengajar di Pondok Pesantren Sukorejo. Materi yang diajarkan kepada para santri Sukorejo adalah Ilmu Tauhid Elementer yang dikenal dengan Aqidah al-Awam karangan Ahmad al-Marzuqi al-Maliki. Sedangkan fìqh yang ia ajarkan adalah Sulam al-Taufiq karya Syekh Abdullah bin Husain bin Thahir Ba’lawi (w. 1272 H /1885 M) dan Safinah aI-Najah karya Syekh Salim bin Àbdullah bin Samir, seorang Ulama Hadrami yang bermukim di Batavia pada pertengahan abad ke-19.

Tahun berikutnya (1939), As’ad menambah lagi materi  pelajaran meliputi beberapa kitab, antara lain: al-Izzi (al- Tahrif li al-.Izzi karangan Izzudin Ibrahim al-Zanjani bin Ajurum, wafat 723H), lengkap dengan Amtsilah Tashrifiyah (al-Amtsilah al-Tashrifiyah Ali al-Madaris al-Salafiyah, karya pengarang Jawa, Muhammad Ma’sum bin Ali, Jombang). Materi ini selalu dibaca setelah shalat Isya’. Sedangkan kitab tasawuf, Bidayah Al-Hidayah (ringkasan Ihya’ aI-Ulumuddin), karya al-Ghazali (wafat 1111 H) dan buku fiqh al-Taqrib fi al-Fiqh, Kifayah al.-Akhyar, karya al-Dimasiqi (wafat 829 H), biasa dibaca setiap habis shalat Subuh. Selain pengajian kitab-kitab di atas, Kiai As’ad juga mewajìbkan santrinya untuk membaca Burdah, Diba’i atau Barzanji karya Busyairi secara berjamaah setiap malam jum’at di masjid atau mushalla. Barzanji atau teks-teks serupa lainnya, seperti Raatibul Haddad, juga dibaca pada peristiwa-peristiwa tertentu dalam berbagai ritual yang mengiringi siklus kehidupan seseorang dan untuk menangkal bahaya.

Seperti lazimnya pondok pesantren salaf yang banyak memfokuskan orientasi keilmuannya pada Mekkah-Madinah, sistem pengajaran yang diterapkan lebih pada hafalan. As’ad yang kala itu dikenal sebagai kiai Muda, menerapkan sistem hafalan ini tergolong cukup serius dan ketat. Bagi mereka yang tidak memenuhi hafalan dalam waktu tertentu, tidak jarang mereka menerima sanksi yang berat.

Kegiatan mengajar kala itu berlangsung di serambi masjid tanpa tempat duduk dan papan tulis. Baru pada akhir tahun 1939 diusahakan papan tulis, dan para santrì berpakaian khas Jawa (memakai blangkon), dan sistem klasikal hanya dapat diselenggarakan sampai kelas IV. Selanjutnya sejak tahun 1950, Kiai As’ad mulai memberikan pengajian tafsir al-Shuyuthi dan Jalal al-Din al-Mahalli, khusus pada bulan Ramadhan dan hanya dibaca dalam tempo 20 hari.

Kiai As’ad sadar sepenuhnya bahwa kehadiran kitab kuning di pesantren merupakan pelengkap bagi kedudukan dirinya. Kitab kuning merupakan kodifikasi tata nilai yang dianut masyarakat pesantren, sedangkan kiai adalah personifikasi yang utuh dari sistem tata nilai itu sendiri. Seorang kiai baru diakui kekiaiannya apabila telah benar-benar memahami, mendalami dan mengamalkan isi kítab kuning dalam kesehariannya. Kadar kedalaman dan pengalaman kitab kuning adalah satu kriteria yang representatif untuk mengukur drajat kiai.

Kiai As’ad dikenal sangat memahami berbagai kitab kuning, minimal dalam empat bidang ilmu: ilmu ‘alat (nahwu, sharaf dan balaghah), ìlmu tauhid, ilmu tafsir dan ilmu fiqh. Ilmu-ilmu tersebut hingga sekarang diajarkan secara mendalam kepada para santri di Sukorejo. Pertanyaannya, bagaimana corak pemikiran Kiai As’ad? Untuk menjawab pertanyaan tersebut ada dua hal yang harus dilakukan, Pertama, dengan menyimak pesan-pesannya yang disampaikan di berbagai forum, yang didokumentasikan dalam bentuk kaset. Kedua, dengan membaca beberapa buah karyanya baik dalam bidang fiqih dan terutama dalam bidang tasawuf. Beberapa kitab ini banyak menjadi koleksi pesantren, baik pesantren Sukorejo sendiri maupun pesantren yang didirikan oleh alumni pesantren Sukorejo.

Dan teropong intelektualitasnya, Kiai As’ad telah menulis karya-karya yang sebagian besar dalam bidang tasawuf dan beberapa saja dalam bidang fiqh, itu pun berupa buku buku kecil, semacam buku saku. Kurang lebih telah tujuh buah buku yang telah ditulisnya dan sampai sekarang masih mudah didapatkan di koperasi pesantren miliknya. Ini bisa dimaklumi, karena buku karya-karyanya tidak dicetak dalam jumlah yang banyak. Semua karyanya hanya bisa dikonsumsi bagi mereka yang bisa memahami bahasa Madura.

Pertama, tepat pada tanggal 14 Maret 1968 M / 13 Dzulhijjah 1388 H, Kiai As’ad mendirikan Universitas Nahdlatul Ulama Ibrahimy (UNUIB), dengan satu Fakultas Syari’ah, yang kemudian dalam perkembangannya menjadi institut dan menjadi bertambah pula fakultasnya menjadi tiga yaitu Fakultas Syari’ah, Tarbiyah dan Dakwah.

Kedua, pada tahun 1980, Kiai As’ad mendirikan SD, SMP dan SMEA Ibrahimi. Dengan demikian, pesantren ini memakai dua kurikulum sekaligus, kurikulum pesantren dan kurikulum pemerintah, baik dari Departemen Agama maupun dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Dua tahun sebelum wafat, Kiai As’ad secara berturut-turut mendirikan lembaga pendidikan: a) Madrasah al-Qur’an khusus bagi mereka yang menghafalkan al-Qur’an, dan b) al Ma’had Ali li  al-Ulum al-Islamiyah khusus bagi mereka yang mau memperdalam ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh. Lembaga yang terakhir didirikan karena adanya kekhawatiran terjadinya kelangkaan Ulama fiqh yang mampu merespon persoalan zaman yang cenderung semakin kompleks. Lembaga inilah yang senantiasa menjadi fokus perhatian Kiai  As’ad sampai akhir hayatnya. Bahkan seminggu sebelum Kiai As’ad wafat, ia masih sempat menitipkan kelangsungan lembaga tersebut kepada Prof. KH. Ali  Yafie, Dr Fahmi Saifuddin, MPH, tatkala kedua tokoh NU tersebut berkunjung ke Pesantren Sukorejo Asembagus.

Kiai As’ad juga seorang pengasuh pondok pesantren yang tergolong besar di Jawa Timur. Pesantren Salafiyah Syafi’iyah yang  diwariskan oleh ayahnya, Kiai Syamsul Arifin, di tangan Kiai As’ad telah berkembang sedemikian pesat. Ribuan santri dari penjuru Nusantara, bahkan hingga manca negara seperti Malaysia, Brunei dan Mekkah belajar di pesantren asuhan Kiai As’ad tersebut. Kiai As’ad memang tipe Ulama kharismatik. Pengaruh wibawanya tidak hanya terbatas bagi para santrinya saja, tapi juga merambah pada masyarakat bawah, terutama di Jawa Timur dan pulau Madura. Waktu hidupnya, setiap hari di kediamannya tidak pernah sepi dan kunjungan para tamu dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dan rakyat bawah (grass root) hingga para pejabat tinggi dan tertinggi negara, mulai dan ujung barat sampai ujung timur Indonesia.

Dengan peran-perannya, maka wajar jika memori kolektif Ulama Islam Indonesia, terlebih warga NU, sangat lekat dengan nama kiai As’ad Syamsul Arifin, seorang Ulama dari Jawa Timur atau tepatnya dari Sukorejo Asembagus Situbondo. Akan tetapi sekalipun nama Kiai As’ad telah tersohor, ia tetap tampil dalam penuh kesederhanaan, walaupun ia tergolong kiai yang berkecukupan dalam ekonomi, ia tidak hidup mewah. Pakaian yang serba putih serta rumahnya yang beratapkan rumbia adalah bukti kuat dalam hal kebersahajaan itu. Atas kebersahajaan ini, Kiai As’ad dikenal sebagai orang yang zuhud dan wara . Lebih jauh ia tergolong sebagai wali yang memiliki kemampuan kasyf yang tinggi.

 

Bersambung!

D kutipan dari:  Buku 99 Kiai Kharismatik Indonesia Jilid 2 (Pustaka Anda Jombang, 2010)