Dzikir Pena Santri

“MEMBANGUN PERADABAN TAHU DIRI”
Oleh : Mahrus Afandi.

Sebagaimana benih pohon yang ditanam di dalam tanah, benih ketuhanan juga ditanamkan di dalam tubuh setiap insan dan diturunkan ke alam dunia. Benih akan mengeluarkan akarnya yang berfungsi untuk menyerap air dan bahan makanan dari dalam tanah, dan daunnya dengan proses fotosintesis menyerap cahaya matahari. Begitulah juga manusia yang harus bekerja dalam kehidupan, berikhtiar mencari saripati ilmu pengetahuan untuk menumbuhkan benih diri.

Sedikit meniru konsep piramida kebutuhan yang dicetuskan oleh Abraham Maslow, jika digambarkan, manusia membutuhkan aspek transcendence, self-actualization, esteem needs, love needs, safety needs, physiological needs. Urutan tersebut berbentuk piramida yang dimulai dari atas ke bawah, dengan aspek transendence menjadi puncaknya. Semakin ke bawah semakin membesar dan melebar, sesuai jumlah orang di dunia.

Pada hakikatnya, jika seorang manusia ingin optimal dalam menjalani hidup, manusia seharusnya berkonsentrasi pada dua aspek teratas piramida itu, yaitu transendence dan self- actualization. Jika manusia fokus pada kedua aspek tersebut, secara otomatis aspek-aspek yang ada di bawahnya akan dapat diraih.

Secara singkat, yang dimaksud dengan aspek fransendence adalah diri transcendence yaitu ruh (diri sejati) yang berasal dari Tuhan. Jalan menuju diri sejati ini hanya bisa ditembus dengan cara spiritual. Sedangkan yang dimaksud dengan self-actualization adalah diri potensi, yang mencakup bakat, anugerah dan Tuhan bagi manusia yang digunakan untuk membangun peradaban. Untuk Mengetahui dan meningkatkan diri potensi ini bisa dimulai dengan melakukan pengembangan diri lewat hobi, kecenderungan atau kesukaan.

Kita bekerja dengan bakat yang kita miliki, yang tumbuh dan kecil atau kadang terpengaruh oleh lingkungan, mungkin oleh orang-orang disekitar kita. Minat atau kecenderungan dalam diri bukan timbul dengan sia-sia. Karena ia adalah isyarat untuk kita mengenal diri sendiri atau fitrah diri.

Jika ini dipahami dan di organisasi dengan baik, manusia akan tumbuh-berkembang dalam peradaban yang membahagiakan lagi sejahtera. Sebaliknya, jika hal itu tidak dipahami dan tidak diorganisasi dengan baik, manusia akan tumbuh-berkembang dalam iklim peradaban yang kacau. Selama ini, yang membuat dunia menjadi kacau adalah karena manusia melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan bakatnya. Hal itulah yang membuat mereka lama-lama menjadi stres dan pasti tidak akan pernah jadi ahli di bidang apa pun.

Setiap individu harus berusaha dan dibantu untuk menemukan dan mengasah diri potensinya sedini mungkin, sehingga menjadi ahli di bidang yang berhubungan dengan diri potensinya tersebut. Jika individu tersebut sudah menjadi ahli, otomatis ia tidak perlu khawatir untuk berpikir tentang penghasilan, jodoh, kehormatan, sosial status, dsb. Karena ia pasti akan dicari orang.

Oleh karena ini, mengetahui diri sendiri adalah kewajiban bagi setiap insan yang ingin menemui kebahagiaan hakiki. Dengan mengetahui diri kita secara spesifik, kita akan mulai melaksanakan ibadah (pengabdian) yang sesungguhnya. Setiap individu pasti memiliki cara pengabdian yang spesifik. Jika kita berhasil menemukan fungsi untuk apa kita diciptakan, itu artinya kita melakukan ibadah (pengabdian) yang sejati: beribadah dengan cara melaksanakan pengabdian pada Allah dengan menjalankan fungsi spesifik diri kita, sesuai dengan alasan untuk apa kita diciptakan.

Fungsi diri yang spesifik inilah yang disebut sebagai ‘misi hidup’, alasan atau tujuan untuk apa kita diciptakan. Oleh sebab itu kita mempunyai hobi, kegemaran, kecenderungan, keterampilan, minat dan pola pikir yang berbeda dengan orang lain. Rasulullah saw. bersabda, “Tiap-tiap diri dimudahkan mengerjakan suatu amal sebagaimana dia telah diciptakan untuk (amal) itu.” (H.R. Bukhari no. 2026). Dalam riwayat lain, “Tiap-tiap diri bekerja sesuai dengan untuk apa dia diciptakan, atau menurut apa yang dimudahkan kepadanya.” (H.R. Bukhari no. 1777).

Khazanah ilahiyah yang tertanam di dalam diri kita adalah bekal bagi kita untuk menempuh perjalanan hidup menurut qudroh dan irodah Allah. Setiap individu (makhluk) memiliki alasan penciptaan masing-masing. Mereka semua memiliki tugas sebuah amanah ilahiyah. Ketika seseorang menemukan tugas dirinya, Allah akan memudahkan dirinya beramal dalam pengabdian sejati berupa pelaksanaan tugas tersebut. Ia akan menjadi yang terbaik dalam bidang tugasnya tersebut. Jalan “yang dimudahkan kepadanya” inilah jalan pengabdian yang sesuai misi hidup, sesuai dengan alasan mengapa ia diciptakan oleh Allah.

Segala sesuatu diciptakan oleh Allah dengan ketetapan,dengan ukuran fungsi spesifik, atau peranan tertentu. A1-Qur’an mengistilahkan hal ini dengan qadr, “ Inna kulla syai’in kholaqnaahu bi qadr”. Menemukan ‘misi hidup’ adalah menemukan qodar diri kita sendiri sebagaimana yang tersebut pada ayat di atas.

Kita menemukan qodar yang ada dalam diri kita sendiri ini adalah maksud dan ‘mengenal diri’ dalam hadits “man ‘arafa nafsahu,faqod ‘arafa robbahu.”

Manusia dituntut untuk memiliki kemampuan merespons perubahan dengan baik, belajar hal- hal baru, dan memelihara keseimbangan mental di tengah situasi yang tidak familiar. Yuval Noah Harari, salah sam ilmuwan di bidang sejarah berpesan, untuk melewati tugas-tugas di masa depan: era super big data

dengan mulut, manusia harus bekerja keras untuk mengetahui Operating System (OS)-nya dengan baik. Demi mengetahui siapa sebenarnya diri mereka, dan apa yang mereka inginkan dan hidup ini. Inilah saatnya kita menyetujui nasehat orang dulu: “Kenali dirimu..”

Ribuan tahun yang lalu, banyak orang bijak seperti para nabi yang mendorong manusia untuk mengenali diri mereka. Akan tetapi, nasehat ini menjadi perkara yang paling dipentingkan di masa abad-21, karena hari ini (abad ke-21) tidak sama dengan era Buddha, Confucius, Laozi atau Socrates. Saat ini manusia terlibat dalam persaingan yang serius. Coca-Cola, Amazon, Baidu, dan pemerintah sedang berlomba-lomba untuk meng-back manusia. Jika mereka semua yang selama ini berlomba-lomba meng-back diri kita berhasil, maka artinya mereka lebih mengetahui diri kita daripada diri kita sendiri, maka yang terjadi adalah mereka bisa menjual apapun kepada kita, baik menjual produk maupun politikus.

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui kelemahan diri kita. Kelemahan tersebut adalah alat utama para hacker untuk menghack manusia. Sama seperti komputer yang bisa di-hack melalui pre-existing faulty code lines, manusia juga bisa di-back melalui pre-existing dan ketakutan, kebencian, prasangka. Hacker memang tidak bisa menciptakan kebencian dan rasa takut kepada manusia terhadap apa atau siapa pun, tetapi ketika hacker sudah menemukan sesuatu yang bisa membuat manusia takut atau membenci, ia akan mudah memainkan emosi dan memprovokasi manusia untuk menjadi lebih marah.

Jika kita melakukan identifikasi terhadap seúap pikiran dan perasaan yang timbul dalam diri kita, kita tidak perlu terlalu susah payah dalam memahami siapa diri kita. Jika kita tidak melakukannya, suatu saat (dikhawatirkan) kita mungkin berpikir kita merasa telah memahami betul diri kita, akan tetapi tiba-tiba saja kita dihadapkan oleh satu momen ketika kita menyadari bahwa yang selama ini kita anggap sebagai diri kita ternyata hanya fenomena perubahan biokimia. Pada akhirnya kita menyadari bahwa kita sebenarnya tidak tahu siapa din kita sebenarnya. Oleh karena itu, usaha untuk terus-menerus menemukan din adalah

sebuah perjalanan yang paling menggairahkan yang dialami oleh manusia. Manusia harus selalu mengingat bahwa mereka tidak cukup jika hanya menemukan ide atau produk baru, akan tetapi manusia juga harus terus-menerus menemukan kembali dirinya,lagi dan lagi.

Komunitas pesantren yang memiliki akses terbuka untuk mengembangkan diri sejati melalui praktik suluk tasawuf tentu diharapkan memiliki kesempatan yang luas untuk berkontribusi membangun peradaban yang lebih cemerlang di masa depan. Hal itu bisa terwujud apabila mereka konsisten memelihara diri sejati melalui jalan tasawuf sekaligus tidak melupakan anugerah Tuhan berupa diri potensi yang juga harus dikembangkan.

 

Dikutip dari:  Buku Dzikir Pena Santri (Belibis Pustaka, 2019)